Dua tahun yang lalu seorang sahabat menanyakan kepada saya, “Mbak ada orang miskin ngga di Australia ?” . pertanyaan yang wajar sebab di Indonesia kalau turis bule pasti dianggap orang kaya sebab kelihatan uangnya banyak sekali sehingga oleh pedagang, pelayan di istimewakan karena mereka selalu mampu membayar harga khusus yang kebanyakan turis local tak sudi membayar karena kemahalan. Wajar kalau dimata para pribumi kebanyakan bahwa bule itu kaya. Dalam artian kaya disini adalah banyak uang.Tidak bisa di sangkal turis asal Australia di Indonesia jumlahnya dominant di bandingkan dengan turis dari Negara lain. Kuantitas yang lebih banyak ini serta ulasan media mengenai besarnya pemberian bantuan bencana alam Tsunami yang diberikan pemerintah Australia kepada Indonesia seolah semakin menunjukan kemakmuran Negara ini dimata teman-teman saya yang kebanyakan lugu dan sering terpesona dengan kulit putih, mata biru dan selalu saja ada uang yang jumlahnya membuat mereka berdecak kagum.
Pertanyaan unik diatas itu awalnya membuat saya tertawa terbahak-bahak tetapi saya menjadi penasaran juga, maka mulailah kegiatan observasi lingkungan dimana saya tinggal saat itu yaitu pedalaman Queensland. Tetangga-tetangga saya yang aborigin dan kulit putih kelihatan kecukupan, bahkan suami saya sampai kesulitan mencari pegawai karena nampaknya semua orang mempunyai pekerjaan, diapun harus luar biasa sabar atas tingkah laku kru nya karena jika mereka resign sangat sulit mencari orang pengganti.
Ditambah lagi di lingkungan saya ini sama sekali tidak terlihat gelandangan maupun orang miskin. Maka dengan mantap saya katakan “tidak ada orang miskin di Australia. Absolutely No poor people in Australia”
Dua bulan kemudian kami melakukan perjalanan ke Sydney dan menginap di daerah Parramatta disana komunitas asal Timur Tengah dan Asia lumayan banyak, di stasiun keretaapi di Westfields malahan pacinan, suasana dan orang-orang yang berlalu lalang serta Bahasa yang dominant adalah Bahasa mandarin. Disini kami seperti menemukan habitat tempat makan murah meriah ala asia, mulai dari bebek peking, rendang, kari sampai kebab.
Ketika sedang membaca peta di taman Parramata tiba-tiba dikejutkan oleh seorang remaja pria berpakaian rapi menyapa dengan ramah “ Hallo dari Philipina?” tentu saja jawabannya bukan. Dia terus bicara “saya dari Philipina, jangan sombong penampilan kalian sama seperti orang-orang Philipina lain.” Sebenarnya kesal juga mendengarnya sebab jika mau argue penampilan dan fisiknya pun tidak seperti orang Philipina tetapi seorang arab kemungkinan besar Lebanese karena di Sdyney komunitas orang Lebanese kelihatannya sangatlah besar.
Lalu tiba-tiba dia mendekat lebih rapat “tolong beri saya $2 untuk naik bis, saya kehabisan uang untuk ongkos pulang.” Kesal dan khawatir di tempel rapat oleh orang tak dikenal maka tanpa pikir panjang kami memberikan $2 seperti yang dia minta lalu diapun pergi.
Tidak lama ada seorang eksekutif wanita jalan terburu-buru menuju stasion, remaja itu mendekat wanita itu sambil berkata “tolong bisa beri koin untuk telpon, saya tidak punya ongkos untuk pulang jadi mau telpon orangtua supaya menjemput.” namun tiba-tiba saja remaja itu menjauh tidak menunggu sampai wanita itu memberinya uang, ia berjalan cepat seperti orang-orang lain yg lalu lalang rupanya ia melihat polisi patroli di taman.
Mengamati kejadian itu kami mbatin “Wah gaya pengemis di Australia boleh juga”.
Ketika pulang menuju bandara Sydney, kami menumpang taksi yang dikemudikan warga Australia yang tadinya pengungsi asal Palestina, ia adalah doctor di bidang Sejarah di Negara asalnya, dari beliau lah kami diinformasikan bahwa ijasah mereka tidak diakui oleh pemerintah Australia jadi mereka tidak bisa bekerja sesuai keahlian mereka sebelumnya, sebagai asylum seeker atau refugee begitu mereka diberi Permanent resident maka mereka harus bekerja untuk kehidupan sehari-hari dan tidak mendapatkan santunan lagi. Kebanyakan mreka ini mengawali kehidupannya di Australia di level menengah ke bawah.
Dari beliau pula kami diberi tahu bahwa banyak temannya yang dahulu dokter, pengacara, insinyur, arsitek, IT kini menjadi pengemudi taksi, cleaning service,buruh dan pekerjaan lain yang tidak membutuhkan ijasah.
Beberapa waktu kemudian saya berbincang dengan istri seorang teman asal kepulauan Fiji yang menjadi guru di Brisbane, ia bercerita kepada saya bahwa pengemis dan gelandangan di Australia terdiri dari berbagai macam sebab dan latar belakang yang lumayan mengejutkan bagi saya.
Dia bilang di Australia ini orang yang termasuk miskin dan orang yang menjadi gelandangan diantaranya adalah orang-orang kaya yang bangkrut usahanya sampai habis sama sekali, orang-orang yang kecanduan obat atau minuman keras atau judi sehingga kehilangan hartanya, lalu seseorang yang penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan anggota keluarganya sehingga terpaksa tidak memiliki tempat tinggal karena tidak mampu membayar sewa rumah atau rumahnya sudah disita bank. Ada juga seorang professional yang karena suatu sebab ia di pecat perusahaannya sehingga dia kehilangan hartanya dan kariernya. Lalu gelandangan usia remaja umumnya Anak-anak yang lari dari rumah karena kekerasan dalam rumahtangga atau rumahnya tidak memberikan kenyamanan baginya, disorder personality dan berbagai sebab yang membuatnya merasa lebih baik meninggalkan rumah, walaupun ada juga yang memang malas bekerja dan mengandalkan uang tunjangan “dole bludgers”
Woah… ini mengejutkan jika hal-hal yang dikatakan teman saya dan sopir taksi ini benar maka banyak kaum terpelajar diantara gelandangan dan orang miskin di Australia. (entahlah berapa presentasinya kaum intelektual ini, harus dibuktikan dahulu melalui survey).
Dua bulan kemudian kami melakukan perjalanan ke Sydney dan menginap di daerah Parramatta disana komunitas asal Timur Tengah dan Asia lumayan banyak, di stasiun keretaapi di Westfields malahan pacinan, suasana dan orang-orang yang berlalu lalang serta Bahasa yang dominant adalah Bahasa mandarin. Disini kami seperti menemukan habitat tempat makan murah meriah ala asia, mulai dari bebek peking, rendang, kari sampai kebab.
Ketika sedang membaca peta di taman Parramata tiba-tiba dikejutkan oleh seorang remaja pria berpakaian rapi menyapa dengan ramah “ Hallo dari Philipina?” tentu saja jawabannya bukan. Dia terus bicara “saya dari Philipina, jangan sombong penampilan kalian sama seperti orang-orang Philipina lain.” Sebenarnya kesal juga mendengarnya sebab jika mau argue penampilan dan fisiknya pun tidak seperti orang Philipina tetapi seorang arab kemungkinan besar Lebanese karena di Sdyney komunitas orang Lebanese kelihatannya sangatlah besar.
Lalu tiba-tiba dia mendekat lebih rapat “tolong beri saya $2 untuk naik bis, saya kehabisan uang untuk ongkos pulang.” Kesal dan khawatir di tempel rapat oleh orang tak dikenal maka tanpa pikir panjang kami memberikan $2 seperti yang dia minta lalu diapun pergi.
Tidak lama ada seorang eksekutif wanita jalan terburu-buru menuju stasion, remaja itu mendekat wanita itu sambil berkata “tolong bisa beri koin untuk telpon, saya tidak punya ongkos untuk pulang jadi mau telpon orangtua supaya menjemput.” namun tiba-tiba saja remaja itu menjauh tidak menunggu sampai wanita itu memberinya uang, ia berjalan cepat seperti orang-orang lain yg lalu lalang rupanya ia melihat polisi patroli di taman.
Mengamati kejadian itu kami mbatin “Wah gaya pengemis di Australia boleh juga”.
Ketika pulang menuju bandara Sydney, kami menumpang taksi yang dikemudikan warga Australia yang tadinya pengungsi asal Palestina, ia adalah doctor di bidang Sejarah di Negara asalnya, dari beliau lah kami diinformasikan bahwa ijasah mereka tidak diakui oleh pemerintah Australia jadi mereka tidak bisa bekerja sesuai keahlian mereka sebelumnya, sebagai asylum seeker atau refugee begitu mereka diberi Permanent resident maka mereka harus bekerja untuk kehidupan sehari-hari dan tidak mendapatkan santunan lagi. Kebanyakan mreka ini mengawali kehidupannya di Australia di level menengah ke bawah.
Dari beliau pula kami diberi tahu bahwa banyak temannya yang dahulu dokter, pengacara, insinyur, arsitek, IT kini menjadi pengemudi taksi, cleaning service,buruh dan pekerjaan lain yang tidak membutuhkan ijasah.
Beberapa waktu kemudian saya berbincang dengan istri seorang teman asal kepulauan Fiji yang menjadi guru di Brisbane, ia bercerita kepada saya bahwa pengemis dan gelandangan di Australia terdiri dari berbagai macam sebab dan latar belakang yang lumayan mengejutkan bagi saya.
Dia bilang di Australia ini orang yang termasuk miskin dan orang yang menjadi gelandangan diantaranya adalah orang-orang kaya yang bangkrut usahanya sampai habis sama sekali, orang-orang yang kecanduan obat atau minuman keras atau judi sehingga kehilangan hartanya, lalu seseorang yang penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan anggota keluarganya sehingga terpaksa tidak memiliki tempat tinggal karena tidak mampu membayar sewa rumah atau rumahnya sudah disita bank. Ada juga seorang professional yang karena suatu sebab ia di pecat perusahaannya sehingga dia kehilangan hartanya dan kariernya. Lalu gelandangan usia remaja umumnya Anak-anak yang lari dari rumah karena kekerasan dalam rumahtangga atau rumahnya tidak memberikan kenyamanan baginya, disorder personality dan berbagai sebab yang membuatnya merasa lebih baik meninggalkan rumah, walaupun ada juga yang memang malas bekerja dan mengandalkan uang tunjangan “dole bludgers”
Woah… ini mengejutkan jika hal-hal yang dikatakan teman saya dan sopir taksi ini benar maka banyak kaum terpelajar diantara gelandangan dan orang miskin di Australia. (entahlah berapa presentasinya kaum intelektual ini, harus dibuktikan dahulu melalui survey).
Memang dikatakan bahwa Pemerintah Australia dan system kesejahteraan sosialnya yang disebut “CENTERLINK” akan memelihara mereka, dana itu disebut “dole money” serta membantu mencarikan pekerjaan tetapi itu tidak mudah didapat sebabbagi pengangguran yang tidak memiliki tempat tinggal , iapun tidak mendapatkan santunan dari centerlink karena mereka tidak punya alamat rumah, lalu pemegang visa permanent resident tidak mendapat santunan dari centerlink untuk 2 tahun pertama ketika mendapatkan permanent visa jadi jika ia tidak bekerja atau kehilangan pekerjaan maka dia tidak mendapatkan santunan.
Info populasi orang miskin dan gelandangan dapat di lihat di http://salvationarmy.org.au/
Terlampir kliping dari Koran Queensland Muslim times January 2007
*catatan ini saya sampaikan untuk sahabat dipedalaman Batu Hijau, Sumbawa NTB.INDONESIA*
Terlampir kliping dari Koran Queensland Muslim times January 2007
*catatan ini saya sampaikan untuk sahabat dipedalaman Batu Hijau, Sumbawa NTB.INDONESIA*

2 comments:
wah asli pertanyaan yang sama pernah di tanyain ke gw waktu masih di jepun mbak. Tapi gw rasa seting n alasannya kenapa ada orang miskin dan gembel di jp beda ama oz. ntar deh gw tulis juga buat lo compare ya.
hai Ujang, saya tunggu tulisannya.
Post a Comment