Saat memilih kepala Negara selalu saja menarik perhatian, saya termasuk bersemangat mengamati calon yang diusung masing-masing partai walaupun saat pemilihan nanti biasanya hati saya tetap tidak yakin bahwa pemimpin Negara yang terpilih akan dapat bekerja seperti harapan indah saya sebab munculnya banyak partai di Indonesia menunjukan banyak orang merasa pantas menjadi pemimpin serta banyaknya orang yang berkepentingan memiliki kekuasaan ditanah air tercinta.Munculnya banyaknya partai menunjukan iklim demokrasi yang baru berkembang dimana suara-suara hati dan kepentingan begitu gegap gempita dan sulit disatukan dan saling ketidak percayaan satu sama lain yang masih tinggi. Puncak pimpinan hanya diduduki oleh satu partai maka sisanya menjadi oposisi. Ironisnya jika partai-partai oposisi ini berada di dalam parlemen tetapi bukannya mendukung partai yang terpilih melainkan terus-menerus menjadi oposisi di dalam parlemen maka lembaga pemerintahan tidak dapat bekerja dengan maksimal karena terlalu banyak berdebat dan sedikit bekerja. Ketika bekerja selalu dicela dan diminta review sehingga tidak maju-maju. Sungguh sebenarnya lebih mudah kalau pilihan partainya hanya dua. Jadi jelas sekali partai oposisi menjadi pengamat dan penyelidik nomer satu terhadap partai yang berkuasa. Hal ini membuat partai yang berkuasa harus bekerja keras disegala bidang membuktikan kinerjanya agar kursinya tetap dimiliki.
Keinginan saya terkabul melihat hanya dua partai saja yang bertarung di Negara yang saya tinggali sekarang yaitu Australia, sayang saya tidak mempunyai hak pilih disini tetapi boleh mengamati dan komentar.
Saat ini PM John Howard harus berjuang keras untuk mempertahankan posisinya sebagai kepala Negara namun hal ini tidaklah mudah sebab kedekatannya dengan Amerika membuat dirinya tidak disukai oleh warga Negara Australia yang menginginkan Australia tidak ke amerika-amerikaan apalagi dukungan beliau yang luar biasa kepada Amerika di Timur Tengah khususnya keterlibatannya dalam perang Iraq benar-benar menuai kecaman, akibatnya PM John Howard mulai kehilangan pendukungnya.
Sebenarnya saking provokatifnya Presiden Amerika George Walker Bush menghembuskan issue terorism yang dilakukan islam membuat orang-orangpun jadi berpikir lebih medalam menganalisa kata-katanya. Hal ini tentu tidak menguntungkan bagi provokator sebab orang-orang pun lambat laun menemukan kebohongan maupun kebenaran yang sesungguhnya maklum kemajuan teknologi dan informasi sangatlah memungkinkan hal ini terjadi.
Telah terbukti bahwa Iraq tidak memiliki senjata haram seperti yang di tuduhkan Bush, terbukti Iraq tidak ada hubungannya dengan Al-Qaida. Lalu kehadiran tentara mereka di Iraqpun tidak memberikan solusi seperti yang dihembuskan mereka setelah eksekusi mantan Presiden Irak Saddam Hussein (alm) bahkan menimbulkan masalah baru.
Dengan ditemukannya kebenaran-kebenaran tersebut tentu sulit bagi Bush dan sekutunya untuk bertahan dengan opininya karena public merasa dibohongi. Ntah lah mungkin harus ada kejadian yang luar biasa agar mereka bisa tetap dijadikan pahlawan dunia anti terorism sebab selama masa invasi ke Irak dengan issue bohong ini sebenarnya merekapun telah melakukan perbuatan terror abad 21 yang lebih buruk dibandingkan pelaku peledakan 9/11 oleh Al-qaeda. Yang pasti akibat kelakuan Bush dan sekutunya ini telah membunuh ratusan jiwa. Entahlah jika ternyata peristiwa 9/11 itu ternyata rekayasa tentu kita semakin ngeri betapa mudahnya para pelaku politik Negara besar membunuh manusia demi memuaskan ego dan keuntungan materi.
Kegagalan politik Amerika di Iraq membuat PM. John Howardpun kesulitan menyelamatkan mukanya dari public Australia yang sejak awal menentang keterlibatan Australia ikut campur urusan Amerika di Timur tengah. Beliau bersikeras bahwa misi damai ke Iraq itu tidak gagal dan apa yang dilakukannya bersama Bush adalah benar sebagai salah satu tindakan anti terrorism di muka dunia.
Padahal akibat provokasi terorisme yang di tiupkan oleh Amerika, banyak warga Australia terprovokasi sehingga menimbulkan masalah dalam negeri Australian sendiri yang tadinya begitu harmonis kehidupan antara non muslim dengan muslim. Yaitu munculnya islamophobia dimana-mana.
Kelihatan sekali PM. John Howard sangat terpukul bahwa Presiden Amerika George W Bush telah kehilangan pesona dimata sekutu maupun rakyatnya terlihat dari semakin berkurangnya dukungan masyarakat Amerika serta munculnya wajah politikus baru Barrack Obama dalam pemilihan Presiden Amerika yang akan datang. Kelihatan benar bahwa George Walker Bush maupun partainya sulit untuk bisa menduduki kursi Kepresidenan USA lagi.
Saya sebagai pengamat, lebih suka mengikuti melalui gambar kartun yang di torehkan di surat kabar dengan sangat menggelitik lucu tapi mengenai sasaran karena benar-benar menggambarkan perasaan masyarakat dalam menilai kelakuan pemimpin. Hal ini yang tidak bisa saya nikmati di Indonesia sebab para kartunis tidak sebebas disini boleh menggambarkan Kepala Negara dan aparatnya. Teringat gambar Presiden RI tempo hari yang dibuat lelucon oleh kartunis Australia, ternyata mampu membuat murka masyarakat Indonesia sebegitu dalam membuat saya berpikir betapa sensitifnya ego bangsa Indonesia. Dan sebegitu legowo nya para pemimpin Australia ketika di kritik rakyatnya melalui kartun, tulisan, teriakan. Koran saya adalah The Courier Mail. Website kartunis favorite saya http://www.leahy.com.au/ 





0 comments:
Post a Comment