Friday, May 11, 2007

Kampanye (bag-1)

Saat memilih kepala Negara selalu saja menarik perhatian, saya termasuk bersemangat mengamati calon yang diusung masing-masing partai walaupun saat pemilihan nanti biasanya hati saya tetap tidak yakin bahwa pemimpin Negara yang terpilih akan dapat bekerja seperti harapan indah saya sebab munculnya banyak partai di Indonesia menunjukan banyak orang merasa pantas menjadi pemimpin serta banyaknya orang yang berkepentingan memiliki kekuasaan ditanah air tercinta.

Munculnya banyaknya partai menunjukan iklim demokrasi yang baru berkembang dimana suara-suara hati dan kepentingan begitu gegap gempita dan sulit disatukan dan saling ketidak percayaan satu sama lain yang masih tinggi. Puncak pimpinan hanya diduduki oleh satu partai maka sisanya menjadi oposisi. Ironisnya jika partai-partai oposisi ini berada di dalam parlemen tetapi bukannya mendukung partai yang terpilih melainkan terus-menerus menjadi oposisi di dalam parlemen maka lembaga pemerintahan tidak dapat bekerja dengan maksimal karena terlalu banyak berdebat dan sedikit bekerja. Ketika bekerja selalu dicela dan diminta review sehingga tidak maju-maju. Sungguh sebenarnya lebih mudah kalau pilihan partainya hanya dua. Jadi jelas sekali partai oposisi menjadi pengamat dan penyelidik nomer satu terhadap partai yang berkuasa. Hal ini membuat partai yang berkuasa harus bekerja keras disegala bidang membuktikan kinerjanya agar kursinya tetap dimiliki.

Keinginan saya terkabul melihat hanya dua partai saja yang bertarung di Negara yang saya tinggali sekarang yaitu Australia, sayang saya tidak mempunyai hak pilih disini tetapi boleh mengamati dan komentar.

Saat ini PM John Howard harus berjuang keras untuk mempertahankan posisinya sebagai kepala Negara namun hal ini tidaklah mudah sebab kedekatannya dengan Amerika membuat dirinya tidak disukai oleh warga Negara Australia yang menginginkan Australia tidak ke amerika-amerikaan apalagi dukungan beliau yang luar biasa kepada Amerika di Timur Tengah khususnya keterlibatannya dalam perang Iraq benar-benar menuai kecaman, akibatnya PM John Howard mulai kehilangan pendukungnya.

Jika Mantan Pemimpin Malaysia Mahatir Mohamad menjuluki beliau sebagai Bush kecil dari Bushland maka rakyat Australia bebas menggambarkan dirinya sebagai lelucon dalam mengkritiknya karena rakyat Australia diberi kebebasan untuk memberikan kritik serta melakukan debat dengan partai maupun Pemimpin Negara melalui fasilitas media cetak maupun TV serta dalam diskusi di Parlemen yang dibuka untuk umum. Kritik yang dilakukan bisa secara verbal maupun cetak.

Sebenarnya saking provokatifnya Presiden Amerika George Walker Bush menghembuskan issue terorism yang dilakukan islam membuat orang-orangpun jadi berpikir lebih medalam menganalisa kata-katanya. Hal ini tentu tidak menguntungkan bagi provokator sebab orang-orang pun lambat laun menemukan kebohongan maupun kebenaran yang sesungguhnya maklum kemajuan teknologi dan informasi sangatlah memungkinkan hal ini terjadi.

Telah terbukti bahwa Iraq tidak memiliki senjata haram seperti yang di tuduhkan Bush, terbukti Iraq tidak ada hubungannya dengan Al-Qaida. Lalu kehadiran tentara mereka di Iraqpun tidak memberikan solusi seperti yang dihembuskan mereka setelah eksekusi mantan Presiden Irak Saddam Hussein (alm) bahkan menimbulkan masalah baru.


Dengan ditemukannya kebenaran-kebenaran tersebut tentu sulit bagi Bush dan sekutunya untuk bertahan dengan opininya karena public merasa dibohongi. Ntah lah mungkin harus ada kejadian yang luar biasa agar mereka bisa tetap dijadikan pahlawan dunia anti terorism sebab selama masa invasi ke Irak dengan issue bohong ini sebenarnya merekapun telah melakukan perbuatan terror abad 21 yang lebih buruk dibandingkan pelaku peledakan 9/11 oleh Al-qaeda. Yang pasti akibat kelakuan Bush dan sekutunya ini telah membunuh ratusan jiwa. Entahlah jika ternyata peristiwa 9/11 itu ternyata rekayasa tentu kita semakin ngeri betapa mudahnya para pelaku politik Negara besar membunuh manusia demi memuaskan ego dan keuntungan materi.

Kegagalan politik Amerika di Iraq membuat PM. John Howardpun kesulitan menyelamatkan mukanya dari public Australia yang sejak awal menentang keterlibatan Australia ikut campur urusan Amerika di Timur tengah. Beliau bersikeras bahwa misi damai ke Iraq itu tidak gagal dan apa yang dilakukannya bersama Bush adalah benar sebagai salah satu tindakan anti terrorism di muka dunia.

Padahal akibat provokasi terorisme yang di tiupkan oleh Amerika, banyak warga Australia terprovokasi sehingga menimbulkan masalah dalam negeri Australian sendiri yang tadinya begitu harmonis kehidupan antara non muslim dengan muslim. Yaitu munculnya islamophobia dimana-mana.


(Picture:Oscar winner 2006)

Di Australia sekarang begitu banyak kejadian buruk menimpa kaum muslim. Hal ini membuat departemen Multikultural Australia dan organisasi Islam Australia harus bekerja keras memulihkan keharmonisan hubungan antara muslim dan non muslim Australia dengan Islam Awareness namun beberapa kali ucapan PM. John Howard maupun Peter Castelo bernada rasis dan islamophobia dalam pidato-pidatonya ketika menyingkapi kebijakan dalam negeri serta moneternya walaupun akhirnya selalu di koreksi tetapi tidak dapat dipungkiri media telah berhasil memfasilitasi propaganda Amerika dengan issue islam terrorism di benua Australia. Tentu saja hal ini tidak menguntungkan sebab hal ini bertentangan dengan kebijakan dalam negeri yang dibuat sendiri oleh Australia yang anti rasism.
(picture:Howard out of line)
Kelihatan sekali PM. John Howard sangat terpukul bahwa Presiden Amerika George W Bush telah kehilangan pesona dimata sekutu maupun rakyatnya terlihat dari semakin berkurangnya dukungan masyarakat Amerika serta munculnya wajah politikus baru Barrack Obama dalam pemilihan Presiden Amerika yang akan datang. Kelihatan benar bahwa George Walker Bush maupun partainya sulit untuk bisa menduduki kursi Kepresidenan USA lagi.

Melihat begitu populernya Barracks Obama dan gagalnya politik Amerika soal issue anti terrorism dimana selama ini Australia menjadi sekutu terdekatnya membuat Howard melontarkan komentar yang mendukung Bush tetapi membuatnya kelihatan konyol dimata public Australia ketika debat parlemen melawan oposisinya Kevin Rudd. Maklum di Australia pun sedang mulai pemanasan PEMILU.


Ironisnya saat ini Amerika melirik Iran sebagai sasaran milisinya kali ini dengan tuduhan nuklir, tentu saja ia mengharapkan dukungan dari sekutu terdekatnya yaitu Australia. Padahal Australia sendiri sedang menghadapi dilemma mengenai sumber energi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan kemungkinan dibukanya kembali reactor nuklir di Australia telah menjadi agendanya.
Tentu saja ini tidak mudah diterima oleh rakyat Australia yang selama ini telah dijejali betapa berbahayanya nuklir bagi kesehatan dan keselamatan umat manusia di muka bumi ini. Disamping itu public Australia mulai mendesaknya agar menarik pasukannya dari Iraq.



Kejadian lain adalah Rakyat Australia sangat concern mengenai keselamatan dan HAM apalagi jika menyangkut warga Australia sendiri.
Kasus David Hicks yang menjadi tawanan Amerika dengan tuduhan terlibat aksi terrorism Taliban (atau Al-Qaeda ?) benar-benar membuat panas kursi Perdana Mentri saat ini sebab di satu pihak sebagai sekutu Presiden Amerika George W Bush tentunya ia harus loyal terhadap apapun yang dihembuskan Bush sehubungan dengan aksi terrorism tetapi disatu pihak David Hicks adalah warganegara Australia yang sempat ditawan Al-qaeda tetapi belum terbukti terlibat langsung didalam kegiatan jaringan Al-Qaeda, dimana menurut hukum Australia jika tidak terbukti secara sah melakukan tindakan yang dituduhkan maka terdakwa bebas.

Rasanya saya belum melihat Kampanye Pemilu yang sesungguhnya atau memang beginilah cara kampanye di Australia yaitu tanpa arak-arakan dijalanan, tanpa pembagian kaos dimana-mana tanpa bakti social dimana-mana, tanpa bendera dan atribut partai dimana-mana. Yang baru saya lihat adalah perang debat serta review yang disampaikan partai oposisi kemudian sanggahan dan bukti yang dilakukan partai yang berkuasa dengan ditampilkan di media cetak, visual dan audio. Tetapi ini tetap menarik tak kalah dengan menonton arak-arakan kampanye partai ditanah air.

Saya sebagai pengamat, lebih suka mengikuti melalui gambar kartun yang di torehkan di surat kabar dengan sangat menggelitik lucu tapi mengenai sasaran karena benar-benar menggambarkan perasaan masyarakat dalam menilai kelakuan pemimpin. Hal ini yang tidak bisa saya nikmati di Indonesia sebab para kartunis tidak sebebas disini boleh menggambarkan Kepala Negara dan aparatnya. Teringat gambar Presiden RI tempo hari yang dibuat lelucon oleh kartunis Australia, ternyata mampu membuat murka masyarakat Indonesia sebegitu dalam membuat saya berpikir betapa sensitifnya ego bangsa Indonesia. Dan sebegitu legowo nya para pemimpin Australia ketika di kritik rakyatnya melalui kartun, tulisan, teriakan. Koran saya adalah The Courier Mail. Website kartunis favorite saya
http://www.leahy.com.au/

Saya harap anda bisa memperbesar ilustrasi kartunis disini, jika tidak bisa silahkan kunjungi websitenya, mudah-mudahan anda terhibur seperti halnya saya.

0 comments: