Masih lekat dalam ingatan, pelajaran sejarah kemerdekaan Indonesia di sekolah betapa luar biasanya perjuangan yang dilakukan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. Dalam logika saya “Kok bisa ya , kita merdeka padahal senjata yang dipakai untuk melawan penjajah jauh lebih sederhana ketimbang senjata milik tentara Belanda..” Kekaguman saya atas jaman perjuangan itu tidak hanya kesederhanaan senjata tetapi jiwa nasionalisme bangsa Indonesia dari sabang hingga merauke, tidak memandang warna kulit, ras, suku dan agama semua satu nama yaitu bangsa Indonesia yang berjuang dan berkorban jiwa raga maupun materi.
Ketika SD yaitu tahun 70an-80an pelajaran favorite saya adalah PMP dan Bahasaku sebab disana diceritakan tentang keharmonisan antar agama, suku dan ras. Keanekaragaman itu membuat saya selalu gembira bila berkenalan teman yang berbeda, bahkan saya dulu mengimpikan punya kenalan Nyong Ambon dan Irianjaya sehingga rajin mencari sahabat pena melalui majalah Kuncung, Kawanku, Bobo, Eppo dan Ananda.
Ketika SD yaitu tahun 70an-80an pelajaran favorite saya adalah PMP dan Bahasaku sebab disana diceritakan tentang keharmonisan antar agama, suku dan ras. Keanekaragaman itu membuat saya selalu gembira bila berkenalan teman yang berbeda, bahkan saya dulu mengimpikan punya kenalan Nyong Ambon dan Irianjaya sehingga rajin mencari sahabat pena melalui majalah Kuncung, Kawanku, Bobo, Eppo dan Ananda.
Masa-masa SMP, saya mulai merasa perbedaan-perbedaan itu menjadi hal yang tidak nyaman. Saya menyaksikan sahabat saya di olok-olok karena ia keturunan cina yang tidak bisa berbahasa Indonesia dengan indah karena logat cinanya kental sekali, saking malu dan sedih ia mogok sekolah maka saya kerumahnya untuk menanyakan kabar. Saat itulah saya baru tahu tentang bangsa Indonesia keturunan Tionghoa tidak memiliki KTP seperti milik bangsa Indonesia yang disebut pribumi, mereka punya dua ID. Hati saya sedih sebab ternyata kemerdekaan Republik Indonesia hanya milik bangsa Indonesia berkulit sawo matang bukan milik bangsa Indonesia berkulit terang dan bermata sipit. Padahal Sukubangsa Tionghoa di Indonesia adalah satu etnis penting dalam percaturan sejarah Indonesia jauh sebelum Republik Indonesia dideklarasikan dan terbentuk mereka sudah ada di wilayah Indonesia sejak ribuan tahun yang lalu, otomatis HARUSNYA digolongkan menjadi salah satu suku dalam lingkup nasional Indonesia setingkat dan sederajat dengan suku-suku bangsa lainnya yang membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia karena suku-suku bangsa itupun nenek moyangnya dari wilayah lain di luar kepulauan Indonesia karena manusia purba Indonesia ada kesamaan dengan di Afrika, Australia, Eropa.
Ah, pada saat itu saya mencoba memahami Negara dengan pengetahuan remaja muda yang terbatas yaitu sejak kapan saudara-saudara saya yang keturunan Tionghoa diperlakukan beda, sejak jaman pemerintahan presiden Soekarno kah atau sejak jaman pemerintahan presiden Soeharto.
Walaupun samar-samar saya mengira sejak jaman pemerintahan Presiden Suharto lah ada peng-kotak-kan antara komunis, nasionalis, kaum agamis. Lalu akibat pemutusan hubungan diplomatic dengan China berimbas warga Negara Indonesia yang nenekmoyangnya asal daratan Cina ribuan tahun yang lalu menjadi korban politisir . Mereka menjadi alien ditanah tumpah darah mereka Indonesia. Tidak hanya itu orang-orang yang tersangka komunis harus menjalani kehidupan di bui tanpa melalui pengadilan termasuk pengarang buku idola saya Pramoedya Anata Toer , keturunan mereka yang dilahirkanpun masuk daftar hitam dimana mereka tidak mempunyai kesempatan pekerjaan dan ID itu seolah-olah menempel di kening mereka. Orang-orang menjauhi seolah mereka mengidap penyakit menular.
Masa-masa SMA mulai mengenal istilah islamisasi dan kristenisasi lalu ada peristiwa mengenai pelarangan memakai jilbab di sekolah-sekolah umum. Ketika menjadi mahasiswa mulailah perhatian saya tertuju ke hal-hal yang lebih besar yaitu mengamati pemerintahan melalui berita dan kejadian-kejadian di sekitar dimana kemiskinan, korupsi, dan kerusakan dimana-mana. Ketika lulus kuliah dan memasuki dunia kerja mulai terasa sekali nuansa kolusi, nepotisme dan korupsi dan begitu susah payahnya mendapatkan pekerjaan dengan mengandalkan idealisme.
Uniknya teman-teman yang dahulu kerap mengecam masalah nepotisme dan kolusi ketika mereka membutuhkan pekerjaan berkata “Eloe kan temen gue, tolong dong dibantu pas tender masukin barang-barang dagangan gue di tempat eloe.” Atau “ Adik gue butuh kerjaan tolong dong masukin di kantor eloe soalnya di tempat gue lagi engga ada rekruitmen.” Bahkan meneruskan tradisi KKN (Korupsi,Kolusi dan Nepotisme) seperti memasukkan anggota keluarga maupun sahabat di instansi dia bekerja tanpa melalui proses seleksi karyawan yang fair. Atau prinsip mengikuti arus saja karena instansi tempat ia bekerja telah melakukan praktek KKN sebagai tambahan penghasilan selain gaji resmi dari instansi.
Dimata saya Pembangunan Indonesia setelah perang kemerdekaan memang kelihatan perekonomiannya maju bahkan sebagian orang mengecap kemakmuran yang luar biasa tetapi sesungguhnya secara mental belum merdeka bahkan hilang rasa persatuan yang dulunya mampu mencetuskan kemerdekaan dan persatuan bangsa dan berganti dengan ketamakan memperkaya diri dengan mengorbankan orang lain. Kemakmuran yang dicapai, kebanyakan kental dengan korupsi sehingga sungguh menyusahkan rakyat. Agama dan moral yang diumumkan sebagai landasan hidup bangsa Indonesia nampaknya tidak menjadi landasan ekonomi dan bermasyarakat.
Puncaknya adalah pertengahan 1998 timbulnya pemberontakan atas tekanan pemerintah Indonesia dimana kejadian yang benar-benar barbar mencorengkan arti kemerdekaan Republik Indonesia dan arti dari Pancasila yang konon melambangkan budi pekerti bangsa Indonesia. Ironisnya kebencian itu dicurahkan kepada saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang beretnis Tionghoa.
Keberhasilan melakukan reformasi politik ini merupakan babak baru dari keterbukaan mengeluarkan pendapat. Bagi saya yang rada kebablasan adalah kebebasan pers. Mereka mengekspose berita begitu bebasnya dengan menggunakan bahasa yang bombastis yang kadang terasa kurang santun. lalu cara penulisan yang berlebihan sehingga mudah membuat opini masyarakat bahkan menyulut emosi. Aib atau kemalangan seseorang menjadi santapan media dan jadi hiburan pembaca, berita tragis dan mengenaskan diekspose dan dinikmati seperti layaknya menikmati hiburan film atau gambar horror. Sadar atau tidak media-media di Indonesia telah hilang rasa prikemanusiaannya.
Pada tahun 2000 an saya ditertawai tetangga pribumi lantaran tiang bendera dirumah, saya buat bagus sekali dan kokoh dengan tiang besi berlandasan batu alam. Ketawanya semakin lebar manakala melihat saya begitu rajin mengibarkan bendera merah putih ketika memperingati hari Kemerdekaan, hari Kebangkitan Nasional, hari Kesaktian Pancasila dan hari Pahlawan. Komentarnya “Ngapain sih buang-buang duit dan capek , enggak ada gunanya ngibarin bendera, emangnya ada hukuman kalau enggak ngibarin bendera. Lagian pemborosan tiap 17an harus nyumbang untuk peringatan. Ini jaman udah merdeka lagih!”
Well, mungkin ia benar ketika jaman pemerintahan presiden Soeharto kewajiban memperingati hari-hari Nasional adalah bentuk kepatuhan rakyat dalam mendukung kebijakan politiknya bukan bentuk ekspresi rasa penghormatan kepada orang-orang yang gugur menegakkan kemerdekaan Indonesia.
Perasaan saya ketika mengibarkan bendera bermacam-macam , terutama kekaguman terhadap mereka yang berjuang demi Kemerdekaan bangsa dan penghargaan terhadap rakyat korban perang dan penjajahan. Ini perasaan saya dan sayapun menghargai perasaaan tetangga saya yang beranggapan bahwa peringatan-peringatan itu hanya simbol yang tidak berguna.
Nah inilah kesan kemerdekaan Indonesia yang saya ingat berdasarkan perjalanan hidup saya antara tahun 70 an sampai tahun 2000 an di Indonesia, tanpa data support, tanpa riset dan bukti ilmiah. Di mata saya ini suatu kenyataan bahwa Negara Indonesia yang dibangun atas semangat persatuan multiculture dan berdasarkan Pancasila dan UUD 45 ternyata menyimpan sikap rasisme yang parah. Negara yang mengharuskan rakyatnya beragama ternyata merupakan salah satu Negara yang tingkat korupsinya tinggi sekali sehingga mengancam iklim investasi.
Tahun 2005 ketika tinggal di pedalaman Australia saya menemukan buku yang mengembalikan ingatan saya terhadap masa lalu yaitu gambaran bangsa Indonesia yang humble, ramah dan indah tetapi juga korupsi yang parah.
Judul bukunya Indonesia Handbook, ditulis oleh Bill Dalton seorang warga Amerika, tahun terbitan buku Oktober 1978. Toko buku tempat saya menemukan buku ini adalah “Book Country “ di kota Mount Isa” . Terbayang oleh saya “Siapa saja yang telah membacanya?”, sebab jika nemunya di kota besar sangatlah wajar karena disanalah pusat bertemunya manusia dari segala penjuru dunia tetapi di Mount Isa In the middle of Queensland’s outback ?. Mengenai isi buku ternyata sangat menarik dan akhirnya menjadi pegangan saya jika harus bercerita ketika acara multicultural atau seseorang yang ingin tahu banyak mengenai Indonesia terutama mengenai keanekaragaman budaya dan Bahasa. Cerita yang saya kutip dari buku ini cukup membuat decak kagum, gimana enggak kagum, Indonesia yang terkenal di Australia karena aksi terorisme bom, islam radikal, korupsi yang parah, rakyatnya miskin dan bodoh ternyata menyimpan keanekaragaman kekayaan budaya yang luar biasa hasil kreasi lebih 500 kelompok suku di Indonesia tersebar dari Sabang (batas paling ujung sumatera) hingga Merauke di Papua dan memiliki 250 ragam dialek bahasa yang sampai sekarang tetap lestari .
“ when you read Indonesian history, you read world history. This country is a subtle blending of every culture that ever invaded it- Chinese, Indian, Melanesian, Portugese, Polynesian, Arabian, English and Dutch. Indonesia’s history is story of wave after wave of migrations of peoples who either absorbed erlier arrivals, kill them off or pushed them into less favorable regions such as deep forests, high mountains or remote islands (where they are found to this day). This explains Indonesia’s astounding ethnic diversity.
“Gezz… how useful this book”. Apalagi soal makanan wah… rasanya makanan selera nusantara benar-benar mewakili seluruh masakan bangsa di dunia termasuk kemiripan masakan, bumbu dan cara memasaknya.
Membaca buku ini benar-benar membuat saya bangga lahir sebagai orang Indonesia dan dibesarkan di Indonesia selain budaya bangsanya yang tinggi juga keunikan sikap dan prilakunya. Bangga rasanya jika bisa memamerkan budaya tinggi kreasi bangsa Indonesia masa lalu. Tetapi namanya juga budaya begitu munculnya budaya baru yang lebih kuat maka budaya lama akan sirna atau bercampur dengan budaya baru. Tentu saja jika sekarang ke Indonesia nuansa kebarat-baratan lebih kental ketimbang nuansa eksotik seperti yang diceritakan buku lawas ini.
Hal yang sedih tetapi membuat saya tertawa terbahak-bahak adalah tulisan mengenai korupsi di Indonesia sebab sejak mulai ditulis beliau sampai saat ini kondisinya begitu solid tidak berubah. Bill Dalton bilang :
“Not only does corruption exist in Indonesia, but it is a complex art; the perfection of rottenness. This rot is eating away the foundation of the nation’s economy. You can be philosophical about the problem and argue that corruption is found in every country in the world, and that it’s purely a western concept. But in Indonesia it permeates every level of government from the lowliest post office clerk right up to the highest government echelons. It is perfection of rottenness at all kind of business”.
Saat ini memang Indonesia sedang bertransformasi walaupun tertatih-tatih karena tidak mudah menghilangkan korupsi yang sudah berakar sangat dalam di dunia bisnis maupun pemerintahan. Optimisme dan harapan tetap ada jika pemerintah konsekwen didalam membasmi korupsi dengan hukuman yang seberat-beratnya lalu masyarakat pelaku bisnis dan pemerintahannyapun mulai sadar untuk tidak melakukan kolusi maupun nepotisme. Sebab bersaing secara sehat/ sportif memang menyakitkan tetapi hasilnya juga luarbiasa bagi pembangunan bangsa dan negara.
Dirgahayu Indonesia ke 62 tahun semoga berhasil memberantas penyakit KKN agar persaingan bisnis yang sehat bisa tumbuh, rakyat yang berotak cemerlang bisa tersalurkan kemampuannya, rakyat yang miskin dan kelaparan bisa tertolong dari uang yang telah dikorupsi bermilyar-milyar itu. Pengangguran bisa diatasi karena tercipta lapangan kerja baru bahkan Negara Indonesia bisa membayar lunas hutang-hutangnya. MERDEKA

0 comments:
Post a Comment