Desember 1998 adalah pertama kali saya berkenalan dengan Harry Potter di Senggigi Lombok- Indonesia. Seperti biasa setiap pulang dari Australia dan kembali ke Batu Hijau, Brice Cole selalu rajin membawakan bacaan sebagai oleh-oleh. Kali ini ia membawa buku Harry Potter and The Philosopher’s Stone". Dia bilang “Anak-anak yang merekomendasikan buku ini, mereka bilang pasti kamu bakalan suka.” Ternyata ucapan itu benar, saya jadi tergila-gila dengan Harry Potter bahkan ketika edisi dalam Bahasa Indonesia terbit, Dino sampai membelikan buku dan album stiker Panini dan saya lumayan tekun melengkapi gambar-gambar stiker di dalamnya. Buku pertama itu menurut saya benar-benar bagus sehingga berulang-ulang membacanya sampai Dino bosan melihatnya terutama adegan saya berlinang airmata ketika membaca hal-hal yang menyedihkan tentang si Harry. Buku kedua “Harry Potter and The Chamber of Secrets “ lalu buku ketiga “Harry Potter and The Prisoner of Azkaban” benar-benar seru sehingga saya tidak pernah bosan membacanya berulang-ulang juga sehingga sekali lagi Dino dan teman-teman sampai geleng-geleng kepala dengan prilaku antik ini.
Buku keempat “Harry Potter and The Goblet of Fire” mulai menghilangkan kegilaan saya dengan Harry Potter, entah mengapa saya merasa dia bukan jagoan 100% sebab kesuksesannya di dalam pelajaran maupun usahanya melawan Voldemort sebagian besar karena bantuan teman-teman yang baik , loyal dan pintar lalu didukung oleh orang-orang yang berkepentingan di dunia sihir yaitu pak Kepsek Dumbledore dan kroninya sedangkan pribadi Harry sendiri sangat biasa saja bahkan cenderung pemalas dan tidak terlalu cemerlang dikelas tetapi jago olahraga. Di buku ini menurut saya kematian Cedric suatu hal yang tidak perlu terjadi untuk mendramatisir cerita. Ironisnya setelah membaca buku seri kelima yaitu “ Harry Potter and The Order of The Phonix “. Saya merasa ceritanya biasa saja, cukup membaca sekali dan tidak ada niat untuk mengulangnya, rasanya pena ibu J.K Rowling tidak setajam seperti ketiga seri pertamanya. Buku keenam “ Harry Potter and The Half Blood Prince” menurut saya isinya biografi para tokoh penting yang belum sempat diceritakan sebelumnya, sehingga flashback, dan kebetulan saya paling malas menonton film atau membaca buku ketika seru-serunya membaca cerita atau menonton film tiba-tiba di potong dengan cerita flashback /mengenang masa lalu seseorang atau peristiwa . Jadi bagi saya buku keenam ini merupakan anti klimaks membaca kisah Harry Potter.
Buku terakhir seri ini adalah “Harry Potter and The Deathly Hallow” . terus terang lega sekali setelah membaca seri terakhirnya si J.K Rowling ini sebab capek menunggu ingin tahu akhir ceritanya walaupun sudah bisa menebak sebab layaknya pakem atau aturan cerita untuk anak-anak bahwa kebaikan selalu menang terhadap kejahatan. Jadi pembaca dewasa jangan terlalu berharap menemukan sesuatu konflik yang serius atau tragis seperti halnya bacaan dewasa. Saya sendiri sempat berharap bahwa Harry Potter dan Voldemort tewas lalu Neville Longbottom yang muncul sebagai tokoh jagoan yang tersembunyi, Hermione menjadi kepala sekolah sekaliber Dumbledore dan Draco Malfoy menjadi baik hati seperti halnya Sirius Black atau Snape tetapi tentu saja harapan itu tidak mungkin karena judulnya saja sudah Harry Potter maka dialah jagoan yang dimaksud dan tentu saja lengkap happy ending bagi tokoh-tokoh baik hati.
Saya suka membaca buku anak-anak dan di seri Harry Potter ini pertama kalinya menemukan kalimat dewasa dibuku yang konon juga dikonsumsi dan dibacakan untuk anak-anak dibawah usia 13 tahun, pada buku kelima, keenam dan ketujuh, saya merasa ceritanya agak dewasa sehingga perlu dilabeli PG (Parent Guide) sebab mulai ada kata-kata keras yang dilontarkan maupun prilaku pubertas dari tokoh-tokoh cerita yang menginjak dewasa. Terutama di buku terakhir saya sempat tertegun dengan tulisan J.K.Rowling di beberapa paragraphs :
“There’s the silver lining I’ve been looking for,’ she whispered, and then she was kissing him as she had never kissed him before, and then Harry was kissing her back, and it was blissful oblivion, better than Firewhisky;………” (page 22)
“There was a clutter as the Basilisk fangs cascaded out of Hermione’s arms. Running at Ron, she flung them around his neck and kissed him full on the mouth. Ron threw away the fangs and broomstick he was holding and responded with such enthusiasm that he lifted Hermione off her feet.” ................(page 502).
“NOT MY DAUGHTER, YOU BITCH!’ Mrs. Weasley threw off her cloak as she ran, freeing her arms. Bellatrix spun on the spot, roaring with laughter at the sight of her new challenger. (page 589).

0 comments:
Post a Comment