Thursday, August 16, 2007

“llawong Sanctuary“ Backyard Zoo”( Kebun Binatang di Belakang Rumah)

Umumnya belakang rumah dijadikan kebun atau taman atau kolam tetapi pasangan Warren dan Christel Hart menjadikan halaman belakang rumah mereka sebagai kebun binatang yang di namai Illawong sesuai dengan daerah tempat tinggal mereka di wilayah perumahan Illawong Beach. Mackay. Tahun 1997 pindah keluar kota di daerah Mirani tetapi tetap memakai nama Illawong untuk “backyard zoo” mereka. Website www.illawong-sanctuary.com

Bangunan Illawong Sanctuary seperti rumah pertanian biasa. (Ordinary farmhouse) Halaman depan rumah dijadikan tempat parkir dan arena bermain anak-anak yang sederhana tetapi cukup membuat anak-anak senang. Teras rumah dijadikan tempat duduk untuk melepas lelah sambil minum dan makan kueh. Ada aquarium untuk menyimpan bayi buaya dan seekor kadal blue tongue. Di sekeliling rumah banyak kandang kecil yang berisi burung-burung asli Australia. Benar-benar pemandangan yang biasa-biasa saja.
Setelah membeli karcis yang dilayani oleh Cristel, ia mengantarkan kami ke teras samping rumah, lalu menunjukan jalan menyusuri pagar untuk menemukan binatang-binatang peliharaan mereka.

Begitu menginjak backyard mulai terasa yang istimewa karena lansung disambut “Jack” si kanguru Queensland outback yang memutuskan diri untuk berbaring menghalangi langkah kami, ia minta di garuk-garuk tetapi saya mengabaikannya karena lebih tertarik memotret ayam.
Ketika sibuk mengatur posisi tiba-tiba saja ada suara buk..buk..buk seperti ada sesuatu yang berlari kearah saya dari belakang lalu terasa kepala ditiup-tiup tentu saja saya kaget lalu berdiri dan berbalik, terlihat Squizzy atau temannya Squizzy (seekor emu) terbirit-birit melarikan diri. “Gezzz…sneaky emu”, batin saya.

Dino sebal sekali dengan emu, mungkin akibat pengalaman buruk 10 tahun yang lalu ketika kami mengunjungi kebun binatang di Sunshine coast “Australia Zoo”(Brisbane). Dia diikuti emu kemanapun pergi sampai kakinya yang bersandal jepit lecet-lecet karena mencoba jalan cepat, lari kesana lalu lari kesini tapi tetap saja si emu menempel rapat didekat dia bahkan ke toiletpun ditunggui, ketika minum di pancuran si emu ikut minum lalu diusir enggak mau bahkan berlagak ingin mengigit jari yang melambai-lambai mengusirnya.
Kejadian itu lucu bagi saya tapi enggak banget buat Dino, sampai akhirnya dia masuk ke kandang aviary yang sangat besar, si emu menunggui Dino diluar karena ia tidak bisa masuk tetapi Dino keluar dari pintu yang diujung lain sehingga bebas dari kuntitannya. Kami mencoba mengintip, kelihatan si emu sabar menunggui Dino dan mengabaikan godaan orang yang lalu lalang didekatnya. Well, enggak tahu sih sampai berapa lama dia disana sebab Dino buru-buru ngajak menjauh karena khawatir si emu menemukan dia. Sejak itu dia tidak suka dengan emu kalau ketemu emu maunya menjauh sejauh-jauhnya.

Sepanjang jalan menyusuri pagar kita disuguhi pemandangan asli atau natural habitat binatang Australia , tak heran halaman belakang rumah ini ramai dikunjungi hewan liar yang mengunjungi teman sejenisnya di dalam kandang. Kelihatanya Warren dan Cristel memberi makan hewan liar juga sebab mereka ini berdatangan dari balik semak-semak dan padang rumput disekitar rumah. Sampai di kandang buaya ketemu Warren yang sedang memberi makan buaya.
(banyak sekali wallabies berkeliaran termasuk ibu dan anak ini)




Di kandang wombat nyoba kesaktian kamera dengan memotret objek didalam pagar, sayang celah kawatnya kecil-kecil jadi foto si wombatnya kelihatan belang-belang karena tertutup kawat.

Sampai dikandang koala, nah ini hewan favoritenya Dino. Maka berusahalah dia dengan sekuat tenaga dan nyali egois dalam berdesak-desakan dengan pengunjung lain yang ingin foto dan menyentuh si cute koala sebab “Princess has a baby”.


Setelah keliling pagar kita sampai lagi ke rumah, lalu Christel memberi sekantung biji-bijian untuk memberi makan kanguru, burung, emu, angsa, stork, ayam hutan, merak, wallabies, bebek dan itik. Terlihat oleh saya si Squizzy membuat pengunjung yang membawa toddler kerepotan sebab ia berkali-kali menjengukkan kepalanya ke dalam dorongan bayi dan tidak mau diusir menjauhi kereta . Akhirnya pengunjung itu yang mengalah pergi meninggalkan backyard menuju rumah.
























Oh iya, selama jalan-jalan di backyard Zoo ini lebih baik pakai sepatu ketimbang sandal jepit atau selop karena kotoran hewan bertebaran dimana-mana .
Yaik…tapi ngga usah khawatir ada keran air untuk cuci kaki dan tangan jika tidak sengaja kita menginjak kotoran atau habis pegang-pegang binatang.

62 TAHUN INDONESIA MERDEKA

Masih lekat dalam ingatan, pelajaran sejarah kemerdekaan Indonesia di sekolah betapa luar biasanya perjuangan yang dilakukan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. Dalam logika saya Kok bisa ya , kita merdeka padahal senjata yang dipakai untuk melawan penjajah jauh lebih sederhana ketimbang senjata milik tentara Belanda..” Kekaguman saya atas jaman perjuangan itu tidak hanya kesederhanaan senjata tetapi jiwa nasionalisme bangsa Indonesia dari sabang hingga merauke, tidak memandang warna kulit, ras, suku dan agama semua satu nama yaitu bangsa Indonesia yang berjuang dan berkorban jiwa raga maupun materi.

Ketika SD yaitu tahun 70an-80an pelajaran favorite saya adalah PMP dan Bahasaku sebab disana diceritakan tentang keharmonisan antar agama, suku dan ras. Keanekaragaman itu membuat saya selalu gembira bila berkenalan teman yang berbeda, bahkan saya dulu mengimpikan punya kenalan Nyong Ambon dan Irianjaya sehingga rajin mencari sahabat pena melalui majalah Kuncung, Kawanku, Bobo, Eppo dan Ananda.

Masa-masa SMP, saya mulai merasa perbedaan-perbedaan itu menjadi hal yang tidak nyaman. Saya menyaksikan sahabat saya di olok-olok karena ia keturunan cina yang tidak bisa berbahasa Indonesia dengan indah karena logat cinanya kental sekali, saking malu dan sedih ia mogok sekolah maka saya kerumahnya untuk menanyakan kabar. Saat itulah saya baru tahu tentang bangsa Indonesia keturunan Tionghoa tidak memiliki KTP seperti milik bangsa Indonesia yang disebut pribumi, mereka punya dua ID. Hati saya sedih sebab ternyata kemerdekaan Republik Indonesia hanya milik bangsa Indonesia berkulit sawo matang bukan milik bangsa Indonesia berkulit terang dan bermata sipit. Padahal Sukubangsa Tionghoa di Indonesia adalah satu etnis penting dalam percaturan sejarah Indonesia jauh sebelum Republik Indonesia dideklarasikan dan terbentuk mereka sudah ada di wilayah Indonesia sejak ribuan tahun yang lalu, otomatis HARUSNYA digolongkan menjadi salah satu suku dalam lingkup nasional Indonesia setingkat dan sederajat dengan suku-suku bangsa lainnya yang membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia karena suku-suku bangsa itupun nenek moyangnya dari wilayah lain di luar kepulauan Indonesia karena manusia purba Indonesia ada kesamaan dengan di Afrika, Australia, Eropa.

Ah, pada saat itu saya mencoba memahami Negara dengan pengetahuan remaja muda yang terbatas yaitu sejak kapan saudara-saudara saya yang keturunan Tionghoa diperlakukan beda, sejak jaman pemerintahan presiden Soekarno kah atau sejak jaman pemerintahan presiden Soeharto.

Walaupun samar-samar saya mengira sejak jaman pemerintahan Presiden Suharto lah ada peng-kotak-kan antara komunis, nasionalis, kaum agamis. Lalu akibat pemutusan hubungan diplomatic dengan China berimbas warga Negara Indonesia yang nenekmoyangnya asal daratan Cina ribuan tahun yang lalu menjadi korban politisir . Mereka menjadi alien ditanah tumpah darah mereka Indonesia. Tidak hanya itu orang-orang yang tersangka komunis harus menjalani kehidupan di bui tanpa melalui pengadilan termasuk pengarang buku idola saya Pramoedya Anata Toer , keturunan mereka yang dilahirkanpun masuk daftar hitam dimana mereka tidak mempunyai kesempatan pekerjaan dan ID itu seolah-olah menempel di kening mereka. Orang-orang menjauhi seolah mereka mengidap penyakit menular.

Masa-masa SMA mulai mengenal istilah islamisasi dan kristenisasi lalu ada peristiwa mengenai pelarangan memakai jilbab di sekolah-sekolah umum. Ketika menjadi mahasiswa mulailah perhatian saya tertuju ke hal-hal yang lebih besar yaitu mengamati pemerintahan melalui berita dan kejadian-kejadian di sekitar dimana kemiskinan, korupsi, dan kerusakan dimana-mana. Ketika lulus kuliah dan memasuki dunia kerja mulai terasa sekali nuansa kolusi, nepotisme dan korupsi dan begitu susah payahnya mendapatkan pekerjaan dengan mengandalkan idealisme.

Uniknya teman-teman yang dahulu kerap mengecam masalah nepotisme dan kolusi ketika mereka membutuhkan pekerjaan berkata “Eloe kan temen gue, tolong dong dibantu pas tender masukin barang-barang dagangan gue di tempat eloe.” Atau “ Adik gue butuh kerjaan tolong dong masukin di kantor eloe soalnya di tempat gue lagi engga ada rekruitmen.” Bahkan meneruskan tradisi KKN (Korupsi,Kolusi dan Nepotisme) seperti memasukkan anggota keluarga maupun sahabat di instansi dia bekerja tanpa melalui proses seleksi karyawan yang fair. Atau prinsip mengikuti arus saja karena instansi tempat ia bekerja telah melakukan praktek KKN sebagai tambahan penghasilan selain gaji resmi dari instansi.

Dimata saya Pembangunan Indonesia setelah perang kemerdekaan memang kelihatan perekonomiannya maju bahkan sebagian orang mengecap kemakmuran yang luar biasa tetapi sesungguhnya secara mental belum merdeka bahkan hilang rasa persatuan yang dulunya mampu mencetuskan kemerdekaan dan persatuan bangsa dan berganti dengan ketamakan memperkaya diri dengan mengorbankan orang lain. Kemakmuran yang dicapai, kebanyakan kental dengan korupsi sehingga sungguh menyusahkan rakyat. Agama dan moral yang diumumkan sebagai landasan hidup bangsa Indonesia nampaknya tidak menjadi landasan ekonomi dan bermasyarakat.

Puncaknya adalah pertengahan 1998 timbulnya pemberontakan atas tekanan pemerintah Indonesia dimana kejadian yang benar-benar barbar mencorengkan arti kemerdekaan Republik Indonesia dan arti dari Pancasila yang konon melambangkan budi pekerti bangsa Indonesia. Ironisnya kebencian itu dicurahkan kepada saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang beretnis Tionghoa.

Keberhasilan melakukan reformasi politik ini merupakan babak baru dari keterbukaan mengeluarkan pendapat. Bagi saya yang rada kebablasan adalah kebebasan pers. Mereka mengekspose berita begitu bebasnya dengan menggunakan bahasa yang bombastis yang kadang terasa kurang santun. lalu cara penulisan yang berlebihan sehingga mudah membuat opini masyarakat bahkan menyulut emosi. Aib atau kemalangan seseorang menjadi santapan media dan jadi hiburan pembaca, berita tragis dan mengenaskan diekspose dan dinikmati seperti layaknya menikmati hiburan film atau gambar horror. Sadar atau tidak media-media di Indonesia telah hilang rasa prikemanusiaannya.
Pada tahun 2000 an saya ditertawai tetangga pribumi lantaran tiang bendera dirumah, saya buat bagus sekali dan kokoh dengan tiang besi berlandasan batu alam. Ketawanya semakin lebar manakala melihat saya begitu rajin mengibarkan bendera merah putih ketika memperingati hari Kemerdekaan, hari Kebangkitan Nasional, hari Kesaktian Pancasila dan hari Pahlawan. Komentarnya “Ngapain sih buang-buang duit dan capek , enggak ada gunanya ngibarin bendera, emangnya ada hukuman kalau enggak ngibarin bendera. Lagian pemborosan tiap 17an harus nyumbang untuk peringatan. Ini jaman udah merdeka lagih!”

Well, mungkin ia benar ketika jaman pemerintahan presiden Soeharto kewajiban memperingati hari-hari Nasional adalah bentuk kepatuhan rakyat dalam mendukung kebijakan politiknya bukan bentuk ekspresi rasa penghormatan kepada orang-orang yang gugur menegakkan kemerdekaan Indonesia.

Perasaan saya ketika mengibarkan bendera bermacam-macam , terutama kekaguman terhadap mereka yang berjuang demi Kemerdekaan bangsa dan penghargaan terhadap rakyat korban perang dan penjajahan. Ini perasaan saya dan sayapun menghargai perasaaan tetangga saya yang beranggapan bahwa peringatan-peringatan itu hanya simbol yang tidak berguna.

Nah inilah kesan kemerdekaan Indonesia yang saya ingat berdasarkan perjalanan hidup saya antara tahun 70 an sampai tahun 2000 an di Indonesia, tanpa data support, tanpa riset dan bukti ilmiah. Di mata saya ini suatu kenyataan bahwa Negara Indonesia yang dibangun atas semangat persatuan multiculture dan berdasarkan Pancasila dan UUD 45 ternyata menyimpan sikap rasisme yang parah. Negara yang mengharuskan rakyatnya beragama ternyata merupakan salah satu Negara yang tingkat korupsinya tinggi sekali sehingga mengancam iklim investasi.

Tahun 2005 ketika tinggal di pedalaman Australia saya menemukan buku yang mengembalikan ingatan saya terhadap masa lalu yaitu gambaran bangsa Indonesia yang humble, ramah dan indah tetapi juga korupsi yang parah.

Judul bukunya Indonesia Handbook, ditulis oleh Bill Dalton seorang warga Amerika, tahun terbitan buku Oktober 1978. Toko buku tempat saya menemukan buku ini adalah “Book Country “ di kota Mount Isa” . Terbayang oleh saya “Siapa saja yang telah membacanya?”, sebab jika nemunya di kota besar sangatlah wajar karena disanalah pusat bertemunya manusia dari segala penjuru dunia tetapi di Mount Isa In the middle of Queensland’s outback ?.

Mengenai isi buku ternyata sangat menarik dan akhirnya menjadi pegangan saya jika harus bercerita ketika acara multicultural atau seseorang yang ingin tahu banyak mengenai Indonesia terutama mengenai keanekaragaman budaya dan Bahasa. Cerita yang saya kutip dari buku ini cukup membuat decak kagum, gimana enggak kagum, Indonesia yang terkenal di Australia karena aksi terorisme bom, islam radikal, korupsi yang parah, rakyatnya miskin dan bodoh ternyata menyimpan keanekaragaman kekayaan budaya yang luar biasa hasil kreasi lebih 500 kelompok suku di Indonesia tersebar dari Sabang (batas paling ujung sumatera) hingga Merauke di Papua dan memiliki 250 ragam dialek bahasa yang sampai sekarang tetap lestari .
“ when you read Indonesian history, you read world history. This country is a subtle blending of every culture that ever invaded it- Chinese, Indian, Melanesian, Portugese, Polynesian, Arabian, English and Dutch. Indonesia’s history is story of wave after wave of migrations of peoples who either absorbed erlier arrivals, kill them off or pushed them into less favorable regions such as deep forests, high mountains or remote islands (where they are found to this day). This explains Indonesia’s astounding ethnic diversity.
“Gezz… how useful this book”. Apalagi soal makanan wah… rasanya makanan selera nusantara benar-benar mewakili seluruh masakan bangsa di dunia termasuk kemiripan masakan, bumbu dan cara memasaknya.

Membaca buku ini benar-benar membuat saya bangga lahir sebagai orang Indonesia dan dibesarkan di Indonesia selain budaya bangsanya yang tinggi juga keunikan sikap dan prilakunya. Bangga rasanya jika bisa memamerkan budaya tinggi kreasi bangsa Indonesia masa lalu. Tetapi namanya juga budaya begitu munculnya budaya baru yang lebih kuat maka budaya lama akan sirna atau bercampur dengan budaya baru. Tentu saja jika sekarang ke Indonesia nuansa kebarat-baratan lebih kental ketimbang nuansa eksotik seperti yang diceritakan buku lawas ini.

Hal yang sedih tetapi membuat saya tertawa terbahak-bahak adalah tulisan mengenai korupsi di Indonesia sebab sejak mulai ditulis beliau sampai saat ini kondisinya begitu solid tidak berubah. Bill Dalton bilang :

“Not only does corruption exist in Indonesia, but it is a complex art; the perfection of rottenness. This rot is eating away the foundation of the nation’s economy. You can be philosophical about the problem and argue that corruption is found in every country in the world, and that it’s purely a western concept. But in Indonesia it permeates every level of government from the lowliest post office clerk right up to the highest government echelons. It is perfection of rottenness at all kind of business”.

Saat ini memang Indonesia sedang bertransformasi walaupun tertatih-tatih karena tidak mudah menghilangkan korupsi yang sudah berakar sangat dalam di dunia bisnis maupun pemerintahan. Optimisme dan harapan tetap ada jika pemerintah konsekwen didalam membasmi korupsi dengan hukuman yang seberat-beratnya lalu masyarakat pelaku bisnis dan pemerintahannyapun mulai sadar untuk tidak melakukan kolusi maupun nepotisme. Sebab bersaing secara sehat/ sportif memang menyakitkan tetapi hasilnya juga luarbiasa bagi pembangunan bangsa dan negara.

Dirgahayu Indonesia ke 62 tahun semoga berhasil memberantas penyakit KKN agar persaingan bisnis yang sehat bisa tumbuh, rakyat yang berotak cemerlang bisa tersalurkan kemampuannya, rakyat yang miskin dan kelaparan bisa tertolong dari uang yang telah dikorupsi bermilyar-milyar itu. Pengangguran bisa diatasi karena tercipta lapangan kerja baru bahkan Negara Indonesia bisa membayar lunas hutang-hutangnya. MERDEKA

Thursday, August 02, 2007

MAKANAN SEHAT & JIWA SEHAT “(Culture shock part 4)

Maraknya makanan cepat saji asal negeri seberang di Indonesia membuat saya kala itu sangat senang sebab tidak perlu ke luar negeri untuk merasakan lezatnya ayam goreng Kentucky, empuknya burger dari burger King dan Mc Donald’s. Makanan ini benar-benar kemewahan buat lidah kebanyakan orang Indonesia dimana daging sapi, daging unggas, telur masih merupakan makanan mahal apalagi keju dan susu. Pertama kali merasakannya benar-benar terasa sensasi wah dalam diri saya, sebab sebelumnya sejak kecil saya sudah penasaran ingin tahu rasanya ketika melihat adegan para bintang film barat maupun kartun menikmati hidangan burger, fried fries, hotdog dan sebagainya di layar kaca hitam putih TV tahun 70 an. Apalagi film Popeye ada si Wimpy yang suka sekali hamburger, Waduh hidung saya ikutan kembang kempik ingin tahu ketika menontonnya.

Setelah saya dewasa dan makanan cepat saji ala barat sudah sangat membaur dengan makanan asli Indonesia di mana saja, Elusan aroma makanan asing itu ketika terhirup hidung benar-benar membius jiwa ketimbang bau masakan Indonesia walaupun bagi lidah saya rasanya lebih enak ayam goreng Mbok Berek ketimbang KFC, lebih sedap empal nasi campur ketimbang setangkup burger Mc. Donald’s. Tetapi godaan bau jajanan barat ini benar-benar sekelas uap bakso angkringan dimana dari jauh baunya mampu membuat lapar siapa saja yang menghirupnya.

Pesonanya memang luarbiasa, bahkan saya bisa ikutan merasakan sensasinya ketika melihat anak-anak pengemis di sebuah mall di Lombok NTB rela membelanjakan semua uang hasil meminta-minta di kios Mc. Donald’s dan mata yang berbinar-binar ketika menghujamkan gigitan pertama pada tangkupan burger lalu jilatan pada es krim menunjukan kenikmatan yang dalam.

Saya pun pernah berpikir bahwa makanan ini cukup bergizi mengingat komposisinya yang ada protein, karbohidrat, sayuran dan keju (hasil olahan susu) persis gambaran 4 sehat 5 sempurna maka saya senyum- senyum senang melihat anak-anak pengemis itu mengkonsumsi makanan yang menurut saya bergizi karena paling tidak mereka kemasukan makanan yang baik pada hari itu tetapi dengar-dengar dari negeri asalnya, makanan ini di kategorikan “junk Food”. Kok bisa ya makanan lezat mewah bergizi dikategorikan makanan sampah.

Menurut informasi dari http://www.wikepedia.org/ :

Junk food is food that tastes good but is high in calories having little nutritional value wordnet.princeton.edu/perl/webwn
Junk food is a term describing food that is perceived to be unhealthy or having poor nutritional value, according to Food Standards Agency. The term is believed to have been coined by Michael Jacobson, director of the Center for Science in the Public Interest, in 1972.[1] The term has since become common usage.
Junk food typically contains high levels of fat, salt, or sugar and numerous food additives such as monosodium glutamate and tartrazine; at the same time, it is lacking in proteins, vitamins and fiber, among others. It is popular with suppliers because it is relatively cheap to manufacture, has a long shelf life and may not require refrigeration. It is popular with consumers because it is easy to purchase, requires little or no preparation, is convenient to consume and has lots of flavor. Consumption of junk food is associated with obesity, heart disease, Type 2 diabetes and dental cavities. There is also concern about the targeting of marketing at children.
What constitutes unhealthy food may be confusing and, according to critics, includes elements of class snobbery and moral judgement. For example, fast food such as hamburgers and french fries supplied by companies such as McDonald's, KFC and Pizza Hut are often perceived as junk food, whereas the same meals supplied by more up-market outlets such as Pizza Express or Nando's are not, despite often having the same or worse nutritional content.[1] Other foods such as rice, roast potatoes and bread are not considered junk food despite having limited nutritional content. Similarly, breakfast cereals are often regarded as healthy but may have high levels of sugar, salt and fat.[2]
Many critics believe that junk food is not harmful when consumed as part of a balanced diet and some believe that the term should not be used at all.[3]


Hostess Twinkies
Should a child start consuming junk food exclusively, as opposed to having a balanced diet, their intake of high-protein-vitamins-roughage diet would substantially decrease and intake of milk and healthy fruit juices would likely be replaced by soft drinks. This would potentially lead to a deficiency of calcium, since milk is rich in calcium. Calcium deficiency, in turn, results in weakening of bones (osteoporosis).
Some types of chips that are said to be "junk food" may actually be partially beneficial because they may contain polyunsaturated and monounsaturated fats. It should also be understood that the detrimental effects of the empty calories may outweigh the benefits of the unsaturated fats. These foods tend to be high in sodium, which may contribute in causing hypertension (high blood pressure) in some people.
The term has become common usage amongst many different groups over the years, including opponents of fast food industries and companies.

(brosur ini dikeluarkan oleh Queensland Governmment, dibagikan gratis)
Saat hijrah ke negeri seberang yaitu Australia dimana makanan yang dikategorikan junk food ini mudah dijumpai dimana saja dan harganya termasuk murah meriah ternyata tetap digemari tua dan muda walaupun media massa dan dokter telah memperingatkan secara gencar bahkan pemerintahpun mengirimi leaflet-leaflet makanan sehat melalui pos ke rumah-rumah. Uniknya, terutama hari libur semua outlet makanan cepat saji ini penuh dengan keluarga yang makan siang maupun sore belum lagi yang memakai jasa Delivery Service apalagi pada waktu liburan sekolah rasanya outlet ini selalu memerlukan tambahan pelayan.

Kalau dipikir-pikir masak sih di Negara yang semaju ini masyarakatnya tidak perduli bahwa makanan itu tidak sehat lalu tetap mengkonsumsinya bahkan menggemarinya tentu ada alasan lain mengapa prilaku ini tetap bertahan. Menurut pendapat saya , Kelihatannya bagi mereka yang mengkonsumsi junk food ini karena tidak mempunyai waktu cukup banyak untuk memasak makanan yang sehat yang mereka sebut dengan “homemade”. Kebutuhan hidup yang semakin meningkat membuat kebanyakan ibu rumahtanggapun harus bekerja maka tidak hanya junk food saja pilihan konsumsi perut tetapi konsumsi rohanipun sekarang diserahkan kepada “Childcare” atau Penitipan Anak jika mereka masih berusia dibawah 5 tahun. Anak-anak sekolah disini pulangnya jam 3 sore.

Pada hari libur setelah lelah bekerja keras selama seminggu, sehubungan tidak ada pembantu seperti layaknya di Indonesia maka mereka memanfaatkan hari ini untuk membersihkan atau merapikan rumah, berolahraga atau mengerjakan hobby tetapi jika benar-benar lelah tentu saja hari libur ini benar-benar dipakai untuk beristirahat. Selain itu karena putra putrinya sehari-hari dititipkan di childcare maupun sekolah maka akhir pekan dijadikan quality time antara orangtua dan anak, sedangkan bagi ibu rumahtangga yang tidak bekerja dan sehari-hari telah lelah mengurus anak-anak dan rumah di akhir pekan adalah saat sedikit beristirahat maka tidaklah heran restoran-restoran cepat saji ini menjadi pilihan mereka untuk memenuhi gizi keluarga sekaligus bercengkrama.

(berita komplitnya bisa dibaca di www.couriermail.com.au )
Baru-baru ini saya membaca surat kabar akhir pekan The Courier Mail, July 28-29,2007 halaman 22 “WORKING OUT A BIG PROBLEM” artikel ini mengungkapkan bahwa 25% anak-anak, 52% wanita dan 67% pria Australia saat ini mengalami kgemukan atau obese. Tingkat obesitas di Australia meningkat dua kali lipat selama 20 tahun (2.5 kali lebih tinggi dibandingkan tahun 1980). Antara tahun 1985 – 1995 perbandingan kenaikan berat badan anak-anak Australia lebih dari dua kali lipat. Penyakit kegemukan di Australia menjadi beban pemerintah sebesar $ 1.5 milyar per tahun.

(Karikatur Leahy dapat di browse di websitenya www.leahy.com.au )

Sebelumnya sudah ramai di isyukan bahwa junk food merupakan salah satu elemen penyebab kegemukan sampai-sampai ada teriakan supaya iklan-iklan makanan jajanan anak-anak dilarang di siarkan di televisi karena menurut para ahli gizi yang dipercayai mengatakan memang kebanyakan jajanan anak-anak nutrisinya tidak mencukupi. Padahal jajanan ini pulalah yang dimasukan ibu mereka ke dalam kotak makan siang.
Tentu saja hal ini dibantah oleh perusahaan produsen makanan melalui ahli-ahli gizinya bahwa mengkonsumsi junk food dalam batas normal tidak akan menyebabkan kegemukan. Apalagi sekarang restoran cepat saji ini menyediakan pula makanan sehat semacam salad dan sandwich sebagai pilihan konsumen. Mereka lebih menekankan bahwa pilihan makanan konsumenlah yang menyebabkan kegemukan. Kontroversial ini sampai sekarang masih saja hangat dibicarakan, sampai-sampai kartunis idola saya “LEAHY” menyetil dengan karyanya ketika berita ini ramai dibahas beberapa waktu yang lalu.

Bagi kami Junk food sangat jarang dinikmati sebab selama tinggal di Australia saya sedang berusaha keras memasak dengan baik dan benar. Lidah kami yang Indonesia asli sangatlah sulit beradaptasi dengan masakan ala barat yang menurut kami kurang berbumbu. Apalagi bahan-bahan makanan jenis apa saja sangat mudah di dapat disini jadi semangat saya benar-benar "Pejuang45" dalam mencoba resep-resep masakan.
Hasil kerja ini terbukti dengan berat badan saya naik kira-kira 8 kilogram dan Dino naik sekitar 10 kilogram selama 3 tahun belakangan. Kenaikan berat badannya memang agak sedikit diatas batas normal/ideal untuk manusia seusia kami tetapi yang membuat shock bukan masalah kenaikan berat badan, tiba-tiba saja dokter mengumumkan bahwa kadar kolesterol kami cukup mengkhawatirkan bahkan Dino harus mengkonsumsi obat tertentu untuk menstabilkannya lalu beliau mewanti-wanti saya untuk memberikan asupan gizi dan dietary khusus untuk menormalkan kadar kolesterol kami.

Olahraga menjadi santapan wajib agar tetap sehat sebab walaupun kami mengkonsumsi makanan sehat tetapi gaya hidup yang buruk yaitu tidak pernah melakukan olahraga teratur ternyata menimbulkan masalah kesehatan dan kegemukan. Untungnya pemerintah Australia menyediakan sarana Mens sana in corpore sano (a healthy mind in a healthy body) ini selain buklet-bukletnya diberikan gratis ke rumah-rumah yaitu disetiap taman maupun jalan di daerah perumahan disediakan fasilitas jogging.
Seperti halnya di Mackay, taman-tamannya dilengkapi 10.000 steps , lalu disana ada papan yang berisi keterangan berapa kalori yang terpakai dalam setiap menitnya, juga cara menghitung denyut jantung. Melihat hal ini tentu saja jelas sekali bagi saya bahwa masalah kegemukan di Australia ini bukan disebabkan oleh junk food tetapi gaya hidup yang tidak sehatlah yang menyebabkan kegemukan. Maka mulailah kami mempraktekan isi buklet tersebut dimana sebelumnya hanya menjadi wacana saja.
Sayapun setuju sekali dengan menggangap lifestyle/gaya hidup yang tidak seimbanglah penyebab masalah kesehatan dan berkurangnya kenikmatan makan sebab dibandingkan dengan almarhum kakek, usia saya belum lagi separuh usia beliau tetapi sudah harus diet anti kolesterol, kakek saya sampai akhir hayat diusia 92 tahun tiap hari tiada hari tanpa olahraga dan tiada hari tanpa tongseng maupun gulai kambing tidak pernah bosan, ketika beliau tiada bukan karena penyakit tetapi sakit karena tua, lemah dan mulai pikun jadi tidak bisa lagi berolahraga.