Maraknya makanan cepat saji asal negeri seberang di Indonesia membuat saya kala itu sangat senang sebab tidak perlu ke luar negeri untuk merasakan lezatnya ayam goreng Kentucky, empuknya burger dari burger King dan Mc Donald’s. Makanan ini benar-benar kemewahan buat lidah kebanyakan orang Indonesia dimana daging sapi, daging unggas, telur masih merupakan makanan mahal apalagi keju dan susu. Pertama kali merasakannya benar-benar terasa sensasi wah dalam diri saya, sebab sebelumnya sejak kecil saya sudah penasaran ingin tahu rasanya ketika melihat adegan para bintang film barat maupun kartun menikmati hidangan burger, fried fries, hotdog dan sebagainya di layar kaca hitam putih TV tahun 70 an. Apalagi film Popeye ada si Wimpy yang suka sekali hamburger, Waduh hidung saya ikutan kembang kempik ingin tahu ketika menontonnya.
Setelah saya dewasa dan makanan cepat saji ala barat sudah sangat membaur dengan makanan asli Indonesia di mana saja, Elusan aroma makanan asing itu ketika terhirup hidung benar-benar membius jiwa ketimbang bau masakan Indonesia walaupun bagi lidah saya rasanya lebih enak ayam goreng Mbok Berek ketimbang KFC, lebih sedap empal nasi campur ketimbang setangkup burger Mc. Donald’s. Tetapi godaan bau jajanan barat ini benar-benar sekelas uap bakso angkringan dimana dari jauh baunya mampu membuat lapar siapa saja yang menghirupnya.
Pesonanya memang luarbiasa, bahkan saya bisa ikutan merasakan sensasinya ketika melihat anak-anak pengemis di sebuah mall di Lombok NTB rela membelanjakan semua uang hasil meminta-minta di kios Mc. Donald’s dan mata yang berbinar-binar ketika menghujamkan gigitan pertama pada tangkupan burger lalu jilatan pada es krim menunjukan kenikmatan yang dalam.
Saya pun pernah berpikir bahwa makanan ini cukup bergizi mengingat komposisinya yang ada protein, karbohidrat, sayuran dan keju (hasil olahan susu) persis gambaran 4 sehat 5 sempurna maka saya senyum- senyum senang melihat anak-anak pengemis itu mengkonsumsi makanan yang menurut saya bergizi karena paling tidak mereka kemasukan makanan yang baik pada hari itu tetapi dengar-dengar dari negeri asalnya, makanan ini di kategorikan “junk Food”. Kok bisa ya makanan lezat mewah bergizi dikategorikan makanan sampah.
Menurut informasi dari
http://www.wikepedia.org/ :
Junk food is food that tastes good but is high in calories having little nutritional value
wordnet.princeton.edu/perl/webwnJunk food is a term describing
food that is perceived to be unhealthy or having poor
nutritional value, according to Food Standards Agency. The term is believed to have been coined by
Michael Jacobson, director of the
Center for Science in the Public Interest, in
1972.
[1] The term has since become common usage.
Junk food typically contains high levels of
fat,
salt, or
sugar and numerous
food additives such as
monosodium glutamate and
tartrazine; at the same time, it is lacking in
proteins,
vitamins and
fiber, among others. It is popular with suppliers because it is relatively cheap to manufacture, has a long
shelf life and may not require
refrigeration. It is popular with consumers because it is easy to purchase, requires little or no preparation, is convenient to consume and has lots of
flavor. Consumption of junk food is associated with
obesity,
heart disease,
Type 2 diabetes and
dental cavities. There is also concern about the targeting of
marketing at
children.
What constitutes unhealthy food may be confusing and, according to critics, includes elements of
class snobbery and
moral judgement. For example, fast food such as
hamburgers and
french fries supplied by companies such as
McDonald's,
KFC and
Pizza Hut are often perceived as junk food, whereas the same meals supplied by more up-market outlets such as
Pizza Express or
Nando's are not, despite often having the same or worse nutritional content.
[1] Other foods such as
rice,
roast potatoes and
bread are not considered junk food despite having limited nutritional content. Similarly,
breakfast cereals are often regarded as healthy but may have high levels of sugar, salt and fat.
[2]Many critics believe that junk food is not harmful when consumed as part of a
balanced diet and some believe that the term should not be used at all.
[3]Hostess TwinkiesShould a child start consuming junk food exclusively, as opposed to having a balanced diet, their intake of high-
protein-
vitamins-
roughage diet would substantially decrease and intake of
milk and healthy
fruit juices would likely be replaced by
soft drinks. This would potentially lead to a deficiency of
calcium, since milk is rich in calcium. Calcium deficiency, in turn, results in weakening of bones (
osteoporosis).
Some types of chips that are said to be "junk food" may actually be partially beneficial because they may contain
polyunsaturated and
monounsaturated fats. It should also be understood that the detrimental effects of the empty calories may outweigh the benefits of the unsaturated fats. These foods tend to be high in sodium, which may contribute in causing
hypertension (high blood pressure) in some people.
The term has become common usage amongst many different groups over the years, including opponents of fast food industries and companies.
(brosur ini dikeluarkan oleh Queensland Governmment, dibagikan gratis)

Saat hijrah ke negeri seberang yaitu Australia dimana makanan yang dikategorikan junk food ini mudah dijumpai dimana saja dan harganya termasuk murah meriah ternyata tetap digemari tua dan muda walaupun media massa dan dokter telah memperingatkan secara gencar bahkan pemerintahpun mengirimi leaflet-leaflet makanan sehat melalui pos ke rumah-rumah. Uniknya, terutama hari libur semua outlet makanan cepat saji ini penuh dengan keluarga yang makan siang maupun sore belum lagi yang memakai jasa Delivery Service apalagi pada waktu liburan sekolah rasanya outlet ini selalu memerlukan tambahan pelayan.
Kalau dipikir-pikir masak sih di Negara yang semaju ini masyarakatnya tidak perduli bahwa makanan itu tidak sehat lalu tetap mengkonsumsinya bahkan menggemarinya tentu ada alasan lain mengapa prilaku ini tetap bertahan. Menurut pendapat saya , Kelihatannya bagi mereka yang mengkonsumsi junk food ini karena tidak mempunyai waktu cukup banyak untuk memasak makanan yang sehat yang mereka sebut dengan “homemade”. Kebutuhan hidup yang semakin meningkat membuat kebanyakan ibu rumahtanggapun harus bekerja maka tidak hanya junk food saja pilihan konsumsi perut tetapi konsumsi rohanipun sekarang diserahkan kepada “Childcare” atau Penitipan Anak jika mereka masih berusia dibawah 5 tahun. Anak-anak sekolah disini pulangnya jam 3 sore. Pada hari libur setelah lelah bekerja keras selama seminggu, sehubungan tidak ada pembantu seperti layaknya di Indonesia maka mereka memanfaatkan hari ini untuk membersihkan atau merapikan rumah, berolahraga atau mengerjakan hobby tetapi jika benar-benar lelah tentu saja hari libur ini benar-benar dipakai untuk beristirahat. Selain itu karena putra putrinya sehari-hari dititipkan di childcare maupun sekolah maka akhir pekan dijadikan quality time antara orangtua dan anak, sedangkan bagi ibu rumahtangga yang tidak bekerja dan sehari-hari telah lelah mengurus anak-anak dan rumah di akhir pekan adalah saat sedikit beristirahat maka tidaklah heran restoran-restoran cepat saji ini menjadi pilihan mereka untuk memenuhi gizi keluarga sekaligus bercengkrama.
(berita komplitnya bisa dibaca di www.couriermail.com.au )
Baru-baru ini saya membaca surat kabar akhir pekan The Courier Mail, July 28-29,2007 halaman 22 “WORKING OUT A BIG PROBLEM” artikel ini mengungkapkan bahwa 25% anak-anak, 52% wanita dan 67% pria Australia saat ini mengalami kgemukan atau obese. Tingkat obesitas di Australia meningkat dua kali lipat selama 20 tahun (2.5 kali lebih tinggi dibandingkan tahun 1980). Antara tahun 1985 – 1995 perbandingan kenaikan berat badan anak-anak Australia lebih dari dua kali lipat. Penyakit kegemukan di Australia menjadi beban pemerintah sebesar $ 1.5 milyar per tahun. Sebelumnya sudah ramai di isyukan bahwa junk food merupakan salah satu elemen penyebab kegemukan sampai-sampai ada teriakan supaya iklan-iklan makanan jajanan anak-anak dilarang di siarkan di televisi karena menurut para ahli gizi yang dipercayai mengatakan memang kebanyakan jajanan anak-anak nutrisinya tidak mencukupi. Padahal jajanan ini pulalah yang dimasukan ibu mereka ke dalam kotak makan siang.
Tentu saja hal ini dibantah oleh perusahaan produsen makanan melalui ahli-ahli gizinya bahwa mengkonsumsi junk food dalam batas normal tidak akan menyebabkan kegemukan. Apalagi sekarang restoran cepat saji ini menyediakan pula makanan sehat semacam salad dan sandwich sebagai pilihan konsumen. Mereka lebih menekankan bahwa pilihan makanan konsumenlah yang menyebabkan kegemukan. Kontroversial ini sampai sekarang masih saja hangat dibicarakan, sampai-sampai kartunis idola saya “LEAHY” menyetil dengan karyanya ketika berita ini ramai dibahas beberapa waktu yang lalu.
Bagi kami Junk food sangat jarang dinikmati sebab selama tinggal di Australia saya sedang berusaha keras memasak dengan baik dan benar. Lidah kami yang Indonesia asli sangatlah sulit beradaptasi dengan masakan ala barat yang menurut kami kurang berbumbu. Apalagi bahan-bahan makanan jenis apa saja sangat mudah di dapat disini jadi semangat saya benar-benar "Pejuang45" dalam mencoba resep-resep masakan.
Hasil kerja ini terbukti dengan berat badan saya naik kira-kira 8 kilogram dan Dino naik sekitar 10 kilogram selama 3 tahun belakangan. Kenaikan berat badannya memang agak sedikit diatas batas normal/ideal untuk manusia seusia kami tetapi yang membuat shock bukan masalah kenaikan berat badan, tiba-tiba saja dokter mengumumkan bahwa kadar kolesterol kami cukup mengkhawatirkan bahkan Dino harus mengkonsumsi obat tertentu untuk menstabilkannya lalu beliau mewanti-wanti saya untuk memberikan asupan gizi dan dietary khusus untuk menormalkan kadar kolesterol kami.
Olahraga menjadi santapan wajib agar tetap sehat sebab walaupun kami mengkonsumsi makanan sehat tetapi gaya hidup yang buruk yaitu tidak pernah melakukan olahraga teratur ternyata menimbulkan masalah kesehatan dan kegemukan. Untungnya pemerintah Australia menyediakan sarana Mens sana in corpore sano (a healthy mind in a healthy body) ini selain buklet-bukletnya diberikan gratis ke rumah-rumah yaitu disetiap taman maupun jalan di daerah perumahan disediakan fasilitas jogging.
Seperti halnya di Mackay, taman-tamannya dilengkapi 10.000 steps , lalu disana ada papan yang berisi keterangan berapa kalori yang terpakai dalam setiap menitnya, juga cara menghitung denyut jantung. Melihat hal ini tentu saja jelas sekali bagi saya bahwa masalah kegemukan di Australia ini bukan disebabkan oleh junk food tetapi gaya hidup yang tidak sehatlah yang menyebabkan kegemukan. Maka mulailah kami mempraktekan isi buklet tersebut dimana sebelumnya hanya menjadi wacana saja.
Sayapun setuju sekali dengan menggangap lifestyle/gaya hidup yang tidak seimbanglah penyebab masalah kesehatan dan berkurangnya kenikmatan makan sebab dibandingkan dengan almarhum kakek, usia saya belum lagi separuh usia beliau tetapi sudah harus diet anti kolesterol, kakek saya sampai akhir hayat diusia 92 tahun tiap hari tiada hari tanpa olahraga dan tiada hari tanpa tongseng maupun gulai kambing tidak pernah bosan, ketika beliau tiada bukan karena penyakit tetapi sakit karena tua, lemah dan mulai pikun jadi tidak bisa lagi berolahraga.