Thursday, September 27, 2007

Adult Migrant English Class

Sebulan yang lalu saya menemukan brosur yang dikeluarkan oleh multicultural affair yang mengatakan bahwa semua adult migrant yang permanent resident eligible untuk belajar Bahasa Inggris “GRATIS” alias free of charge di TAFE University. ( “Uwaaaduh gratis nih, jelas tidak boleh disia-siakan” teriak bathin saya).

Jujur deh, seumur-umur saya belum pernah belajar Bahasa Inggris dengan properly bin layak seperti halnya teman-teman maupun saudara yang belajar di lembaga khusus bahasa. Pelajaran Bahasa Inggris yang diserap nalar hanya ketika diajarkan di SMP dan SMA sebagai bagian mata pelajaran disekolah. Saya tidak menolak ketika ibu memasukkan saya ke Lembaga Bimbingan Test untuk membantu pemahaman pelajaran di sekolah tapi saya menolak keras untuk kursus Bahasa Inggris. Intinya sih pelajaran Bahasa bukan mata pelajaran favorite , saya hopeless (dengan “S” double sebagai tanda payah betoul) kalau harus membuat puisi, prosa, pantun dan sebagainya seni kesusatraan, sedangkan dalam belajar bahasa Inggris saya malas mempelajari grammar yang begitu banyak, menghapal vocabulary lalu melafaskan pronunciation membuat lidah saya yang pendek kelabakan dan lelah.

Saya cukup puas dengan nilai Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang biasa-biasa saja dikisaran angka 8-7. Maka tidak heran ketergantungan terhadap fasilitas program grammar dan spelling di komputer sangatlah besar. Tetapi ini tidak masalah karena tidak setiap hari menulis maupun berbicara dalam Bahasa Inggris. Jika melakukan traveling ke luar negeri dan harus berkomunikasi dengan Bahasa Inggris maka fasilitas kamus elektronik alfa-link benar-benar merupakan sekretaris pribadi saya yang sangat kompeten. (“Terima kasih teknologi tanpamu apalah dayaku.”). Itu gumaman pemujaan atas perangkat canggih milik saya.

Hijrah ke negeri seberang yang sehari-hari bercakap dengan berbahasa Inggris membuat saya yang ceriwis menjadi agak pendiam. Wah, penyesalan memang selalu datang dibelakang. Tamparan sesal itu terasa lebih keras karena tempat tinggal saya adalah dipedalaman Australia (outbacks) dimana umumnya mereka berbicara mumble dan dengan aksen aborigin atau aksen Queenslander yang kental belum lagi Australia’s slang yang sering membuat saya jadi alien lantaran tidak paham apa yang mereka maksud. Disisi lain aksen jawa yang mewarnai ucapan saya membuat pronunciation yang tidak pas intonasi maupun lagunya membuat si Aussie/Oz sering bilang “Pardon?” nah kalau sudah begini maka saya harus mengulang ucapan bahkan mengejanya kalau perlu. Begitu juga jika si Aussie/Oz, jika sudah mumble cara bicaranya maka sayapun bilang “Pardon,” lalu ketika ia mengulang bicara maka saya mengamati bibirnya baik-baik jika masih mumble “Open your mouth please”. Itu tandanya saya masih sulit mengerti ucapannya. Nah, jadi Bahasa Inggris yang dipelajari disekolahan saya dulu itu apa ya? sebab sulit benar saya memahami ucapan mereka, setelah mereka menulis di kertas baru saya paham “Oh, itu toch yang kau maksud.” Kadang-kadang terlintas dikepala saya bahwa orang Australia tidak berbicara dengan Bahasa Inggris tetapi Bahasa Australia.

Apesnya lagi disana tidak ada lembaga bahasa yang bisa menuntun saya agar bisa berbahasa Australia dengan baik dan benar ditambah lagi cuaca ekstrim yang membuat orang-orang lebih suka berdiam diri di rumah membuat saya harus belajar sendiri ketimbang bersosialisasi yaitu dengan mendengarkan radio, membaca koran dan menulis apa saja dalam Bahasa Inggris. Pembimbing saya adalah buku grammar. kegemaran saya membuat craft lumayan membantu melemaskan lidah dalam berbahasa Inggris karena saya harus bertanya atau menjawab ketika sharing dengan teman-teman Australian. Mereka juga yang kadang membuat saya mengerutkan dahi ketika mengirim SMS dengan bahasa yang di singkat sesingkat singkatnya.

Jadi Iklan belajar gratis itu rasanya sulit jika diabaikan sebab yang pertama adalah “Irit”, karena biaya sekolah disini mahal, kedua saya ingin terbebas dari kamus dan ketiga saya harus mampu menulis dan berbicara dengan baik dan benar.
Q: Mengapa harus dengan baik dan benar ?”
A: (menurut saya) terutama agar mudah dimengerti lawan bicara tidak hanya dengan orang yang berbahasa ibu "English" tetapi juga dengan pendatang yang bahasa ibu "Non English language" lalu hal lainnya adalah menghindari miscommunication dan prejudice.
Maka segeralah mendaftarkan diri sekaligus placement test ke TAFE University, Mackay. Perasaan saya saat itu sangatlah excited, seminggu kemudian barulah mulai belajar. Hasil placement test saya menempatkan masuk ke kelas yang sudah belajar sejak bulan Juni 2007 jadi saya harus berusaha mengejar ketinggalan.


Hari pertama sekolah rasanya seru benar, sebab siswa-siswanya dari berbagai negara. Disini saya seperti menemukan teman sependeritaan sebab semua siswa berbicara dengan aksen masing-masing, guru kami luar biasa sabar sebab pasti tidaklah mudah baginya memahami pronunciation masing-masing siswa seperti halnya saya harus konsentrasi memahami ucapan mereka juga. Jelasnya suasana belajar sangat meriah setiap reading dan conversation.
Hari kedua dan selanjutnya mulai terasa pelajarannya lumayan sulit sehingga mengingatkan pada test IELTS dimana hasil kerja saya lulus dengan nilai agak mepet. Tapi gara-gara saya lulus IELTS itu malahan tidak dapat GRATISAN 100%, Aduh sempat was-was juga ketika dipanggil oleh guru saya perihal pembayaran sekolah sebab kalau harus membayar walaupun tidak sebanyak International student yang angkanya diatas $3000 tapi pastinya diatas $1000, eh.. ternyata hanya membayar $ 36.10 untuk 510 jam. Jadi bolehlah tersenyum lega.

Wah, ini pertama kalinya dalam hidup saya bersungguh-sungguh lahir dan batin belajar Bahasa dan pertama kalinya saya bakalan dapat sertifikat lulus Bahasa Inggris. Adult Migrant English Class ini benar-benar sekolah yang menyenangkan sebab belajar serius lalu diselingi dengan icip-icip makanan alangkah nikmatnya, maklum metode belajarnya tidak terlalu formal sebab ketika berlangsung pelajaran kami dibolehkan sambil minum teh, kopi, susu, juice terserah maunya kita asal bukan minum beer. Ketika break makan siang bisa saling intip dan icip-icip masakan negara lain dari lunch box teman atau mereka yang dengan sengaja membawa masakan khasnya. Lalu kartu mahasiswa berguna sekali buat diskon bayar transpostasi dan beli buku. Sayangnya sekolah gratisan ini akan berakhir bulan Desember 2007 , berhubung English Certificate III merupakan kelas terakhir bagi Adult Migrant English Class maka apa boleh buat kebersamaan saya dengan mereka tinggal tiga bulan lagi.