Tuesday, January 01, 2008

Farewell Benazir Bhutto

Setelah berhari-hari tanpa surfing internet, akhirnya hari Kamis 27 Desember 2007 jam 19.10 internet gratisan di Bandara Changi Singapura menjadi pelampisan kerinduan akan dunia maya, tidak terbayang betapa penuhnya email saya, lalu terbaca headline di Yahoo “Benazir Bhutto assassinated “. Tidak terasa airmata mengembang dimata saya membuat lensa kacamata menjadi buram, hilang semangat mengecek email “Innalilahiwainnalillahi rojiuun” telah berpulang ke Rahmatullah seorang muslimah pada bulan haji, semoga Allah SWT mengampuni segala dosanya dan diterima iman islam serta amal ibadahnya selama ini, Amin.“

Masyaallah, padahal belum tepat seminggu saya mengenang tokoh kharismatik Saddam Hussein yang di eksekusi pada hari pemotongan hewan kurban, tepatnya pada saat saya mengamati kepala Dino dan para brothers muslim yang di cukur gundul di perkemahan haji di Mina sambil bergumam “Ya Allah, setahun yang lalu bertepatan dengan peristiwa khusu dan lucu ini Saddam Hussein menghadapMu melalui tiang gantungan.”

Bagi saya Benazir Bhuto identik dengan Pakistan, itu ucapan yang keluar ketika dua tahun yang lalu seorang sister asal Pakistan menanyai saya soal sejauh mana saya mengenal negerinya. Maklum saja pengetahuan tentang Pakistan saya lahap melalui pelajaran sejarah di SMP (Sekolah Menengah Pertama), buku dan media yang beritanya kebanyakan negatifnya ketimbang positifnya, namun image dan charisma sosok Benazir Bhutto membuat saya mengaguminya sebagai politikus wanita seperti halnya kekaguman saya terhadap mantan PM Inggris Margaret Thatcher. Memang bisa dihitung dengan jari sosok wanita kuat di dunia politik internasional abad ini. Di dalam dunia imajinasi saya sosok Benazir Bhutto ini seperti Joan of Arc atau Jeanne d'Arc dalam bahasa Perancis , dia adalah wanita pahlawan nasional Perancis abad ke 15 yang lahir tahun 1412, memimpin pasukan perang yang isinya laki-laki semua lalu meninggal dengan eksekusi dibakar hidup-hidup pada 30 Mei 1431 di Ruen Perancis, yang tentunya karena alasan politis saat itu, sebab kemudian dia justru dijadikan salah satu Saint di agama Katolik dan pahlawan Perancis, hanya saya tidak menyangka kematian Benazir Bhutto kok sama-sama mengenaskan dengan tokoh masa lalu yang masuk ke dalam daftar manusia hebat di memory saya.

Percakapan dengan sister asal Pakistan sedikitnya membuka mata saya atas ketidak sempurnaan tokoh wanita idola saya ini , mungkin kebetulan juga dia bukan pendukung partai yang di usung Benazir Bhutto. Mendengar cerita hinggar-binggar perebutan kursi kepemimpinan di Pakistan dan perseteruan antar muslim disana membuat saya bersyukur “Alhamdulillah Indonesia masih belum separah itu. Alhamdulillah Indonesia bukan negara muslim.” Jujur saja saya belum melihat Negara muslim yang damai dan saling menghargai sesama dan melindungi kaum yang lemah jadi saya punya kekhawatiran pribadi jika Indonesia menjadi negara islam maka akan rusuh seperti negara-negara islam yang saya kenal selama ini. Jujur saja hati saya tidak bisa menerima seseorang atau sekelompok tertentu membunuh orang lain dengan membawa nama agama, nama islam dan Allah SWT apalagi yang membunuh dan yang di bunuh adalah muslim juga karena kepentingan ideology atau politik kelompok islam tertentu karena saat ini islam tampil dalam banyak golongan. Tidak disangka dua tahun kemudian , berita yang dilansir BBC mengenai bom bunuh diri di masjid dekat kota Peshawar saat sekitar 1.000 orang menunaikan shalat berjamaah di tengah perayaan Idul Adha tanggal 12 Desember 2007.

benar-benar membuat saya kehilangan kata-kata untuk menterjemahkan arti islam adalah selamat dan damai. (Wikipidia) Perkataan Islam berasal dari perkataan Arab (aslama, yuslimu, islaman) yang bermaksud tunduk, patuh dan ia juga bermaksud selamat, sejahtera serta damai. Nama Islam itu sendiri adalah diberi oleh Allah Tuhan sekelian alam.
Pada saat berita itu terdengar di perkemahan kami, semua jammaah di tenda saya bermuka muram beberapa orang yang berasal dari Pakistan nampak menangis. Dino pun sibuk menghubungi sahabat-sahabat asal Pakistan menanyai adakah keluarga mereka menjadi korban.


Sesampai di rumah, saya mencari kartunis idola saya “Leahy” , di surat kabar The Courier Mail. beliau begitu jeli membidik dan merangkum berita dalam satu gambar yang tepat, kebetulan juga mereka (Courier mail newspaper) membuat ulasan khusus mengenai sosok Benazir Bhutto ini sebab beliau memang benar-benar unik dimata dunia, Dia adalah seorang pemimpin wanita di negara islam, sudah pasti jalannya sukar sekali. Kematiannya menjadi begitu monumental sebab banyak pihak ingin bertanggungjawab atau dituduh bertanggungjawab tetapi menurut opini saya yang tanpa riset, tanpa studi kelayakan lalu terpengaruh film spy, novel suspense, surat kabar, internet, gossip dan opini orang lain, bahwa bisa jadi pembunuh sebenarnya adalah orang dekat beliau sendiri yang menghendaki partainya tidak dipimpin oleh wanita namun membutuhkan tokoh yang namanya sudah mendunia dan mendapat kepercayaan dari masyarakat pedukungnya. Jadi kalaupun ada tim investigasi seperti film seri CSI (Crime scene Investigation) yang banyak versi itu harus tim yang independent dari luar Pakistan dan jauh dari pengaruh Amerika.

Tahun 2008 adalah Pemilu di Pakistan semoga kematian Benazir Bhutto ini bukan merupakan akhir dari system politik demokasi atau ciri-ciri dari penegakan politik demokrasi tetapi benar-benar menjadi penutup kekacauan politik di Pakistan sehingga Negara ini menjadi potret negara islam yang adi luhur seperti halnya jaman kejayaan pemerintahan Rasulullah SAW.

terlampir kliping koran koleksi berharga milik saya, koran andalan Queenslander "The Courier Mail" edisi 29-30 December 2007 , berita ulasan lengkap bisa di browse http://www.couriermail.com.au/ dan coretan kartunis idola saya di http://www.leahy.com.au/






Terlampir Opini yang dimuat di koran The Courier Mail perihal kejadian ini.





0 comments: