Wednesday, December 10, 2008

A friendship beyond "catatan reunion SMA 39 Jakarta"

Class Reunions
by Ency Bearis

Together we came along, at least for
recollection of those yesteryears
from the time of our high school year
they say that year was the best
Years pass by
Different pathways we got through
Cycle of life we let it flow
Thou others had bade goodbye
Photographs we had, other vanished
In hand of God some classmates were taken
We hope they rest in peace in heaven
As one by one from earth they faded
We miss our friends
They were our classmates
They were our playmates
Some of them were your best friends
Sad to say this is the trend
But that’s part of life we live in
Reality we face this is within
But we still continue our reunion we intend
Memories of high school years we recollect
Laugh to our young minds deed
Relive our naughtiness and crack head
Happiness are here we seek
Can we do this again?
As age taking our mundane
How many more years to attain?
And shall we meet again?

Sudah lama saya rindu dengan kawan-kawan disekitar saya dahulu, setiap pulang mengunjungi kota Jakarta pikiran saya melayang ke jaman ketika masa remaja SMA yang rasanya “Kok saya kehilangan gegap gempitanya lantaran ketika itu terlalu banyak keinginan ini dan itu yang menghabiskan waktu 7 hari dalam seminggu. Ya..ya kalau diingat nampaknya saya kebanyakan kegiatan ekstra jadi tidak sempat hura-hura”. Setahun lalu saya menemukan salah satu sahabat di kelompok science SMA ketika browsing internet, ternyata ia masih keep in touch dengan teman-teman yang lainnya. http://kirsman39angk88.multiply.com/ Sungguh bahagia menemukan kembali mereka yang pernah berarti dalam kehidupan saya.

Undangan pertemuan reuni benar-benar membuat kepulangan ke tanah air kali ini terasa sangat istimewa karena saya punya harapan mereview masa dahulu yang tidak sempat saya amati, misalnya siapa saja cowo dan cewe idola dan siapa saja guru favorit. Kedua hal ini benar-benar tidak pernah menarik perhatian saya ketika itu. Jika tiap remaja dengan mudah menyebutkan siapa sih cowo paling keren di sekolah atau siapa sih cewe paling cakep disekolah maka dengan mudah mereka menjawabnya, kecuali saya. Tidak pernah terlintas di kepala saya untuk menentukan cowo atau cewe yang menjadi idola itu, saat itu saya lebih terkagum-kagum dengan teman yang berotak cemerlang ketimbang ikutan mengamati cowo ganteng dan cewe cakep.

Bukanya bermaksud menganggap mereka tidak menarik untuk disimak dan dibicarakan tetapi kalau bisa menemukan yang paling cakep setidaknya harus bisa menemukan yang paling jelek alias The Beauty and the Beast. Menemukan siapa yang paling jelek tentunya tidak semudah menemukan siapa yang paling cakep karena lebih banyak factor XYZ untuk menentukannya.Wah..wah..wah, sungguh argumentasi yang mengundang masalah bahkan menukik menuju kegiatan yang merepotkan dan berunsur SARAF (suku,ras,agama dan fisik) yaitu meneliti dan menilai setiap murid. Hal inilah yang selalu membuat saya berdebat dengan sahabat akrab saya “Vera” yang selera penilaiannya berbeda dengan saya, jadi ketimbang berdebat akan sesuatu hal yang nggak penting jadilah milih enggak perdulian.

Romantisnya masa SMA
Katanya masa SMA adalah masa yang paling indah maka jika berbicara soal perasaan saya terhadap lawan jenis, wah luar biasa karena saya tidak bisa menyukai hanya satu pria tetapi semua teman pria yang menjadi sahabat-sahabat saya. Saya tidak bisa menentukan kepada siapa saya lebih suka. Jadi seandainya memutuskan untuk menjadi kekasih seorang pria maka saya bukanlah seorang kekasih yang setia karena saya tidak akan bisa berkata”Aku hanya sayang kamu.”

Uniknya teman-teman
Sekolah terasa sangat membosankan jika kita tidak menikmati keunikan siswa-siswanya. Sudah pakemnya kalau disekolah itu ada bullies-nya, ada atlitnya, ada pemanisnya ada kaum borjuis nya, ada pelawaknya dan sebagainya. Saya tidak tahu peran saya sebagai apa karena yang menilai adalah orang lain yang jelas saya mempunyai perhatian khusus dengan tingkah laku teman yang tidak biasa sehingga membuat saya selalu berharap ada hal baru yang menarik akan dia lakukan keesokan hari.

Vera adalah sahabat saya sejak hari pertama masuk sekolah, jadi dia adalah mahluk paling unik disekolah nomor satu dalam daftar saya.
Eko, Oentari, Abu, Arief, Erwin, Beny, Agung , Ria, Sita,Merry, Dandi, Sari, Siway, Puji, Santos, Dony, Arum, Anjar dan semua sahabat di kelompok science adalah kumpulan siswa hebat yang saya sayangi sangat dalam. Dengan merekalah saya menghabiskan sebagian besar waktu diluar jam sekolah.

Jamalludin adalah sosok paling sering dilihat oleh siapapun, area SMAN 39 sangatlah luas dan siswanya sangatlah banyak, jika diperhatikan sekolah adalah object explorasinya. Tidak heran ketika acara reunian dia paling banyak mengenal para alumnus.

Andreas yang wajahnya kerap saya lihat kalau menjemput kedua sahabat saya “Vera dan Rudy" dikelas Bahasa, rambutnya mengingatkan saya akan grup musik Duran-Duran, kadang terpikir berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk merawat rambutnya yang indah itu. Ketika bertemu dengannya kembali, dia tidak lagi berjambul, lebih down to earth. Walaupun begitu kenangan saya mengenai jambulnya yang bagus enggak pernah hilang.

Rudy, sahabat saya yang sangat lembut dan apik dalam penampilan. Kulitnya yang bagus dan pembawaannya yang kalem membuat saya selalu minder jika bersejajar dengannya. Ah secara tidak sadar bersamanya selalu mengingatkan bahwa saya adalah perempuan sebab sehabis mengamati dia biasanya saya jadi lebih memperhatikan kesehatan kulit dan rambut. Kecermatan dan telaten adalah sesuatu hal penting yang saya pelajari dari dia. Rudy pandai sekali menggambar dan membuat papercraft. Gara-gara dia dan Vera, saya jadi suka dengan craft sampai sekarang. Kartu valentine darinya saya simpan sampai bertahun-tahun kemudian sebagai inspirasi dalam craft buatan saya. Sayangnya wujudnya sebagai pria sangatlah manis jadi dia sering di jahili teman-teman yang kadang keterlaluan. Saya dan Vera biasa menghiburnya ketika wajahnya sudah memerah dengan mata berkaca-kaca karena marah.

Rudi teman sekelas, merupakan sosok yang memiliki kemampuan yang membuat saya kagum sekali sampai-sampai saya berharap bisa mempunyai kemampuan seperti itu. Dia hampir setiap hari terlambat lantaran tinggal di Permata Hijau, Sering juga tertidur ketika pelajaran berlangsung kadang sampai mendengkur namun ajaibnya setiap harus menjawab pertanyaan guru atau mengerjakan quiz di muka kelas, dia mampu melakukan dengan sempurna, dibandingkan dengan kami yang melototi dan menyimak pelajaran dari mula-mula maka kemampuan dia adalah superb. Ah, yang enggak kuat adalah bekal sarapan lontong/ arem-aremnya yang selalu dimakan diam-diam ketika pelajaran berlangsung “Ley alert gue ye kalo guru mendekat.” Ahaha.. saya tidak bisa melupakan wajahnya lucu sekali ketika menikmati sarapan istimewanya itu dengan mencuri kesempatan. Well, dia idola saya dikelas karena keunikannya, metode belajar skimming yang dikuasainya sangatlah luar biasa. Sampai-sampai mama saya ingat dengannya sampai sekarang lantaran hampir setiap hari saya bercerita tentang dia.

Evi walaupun seorang anggota Pramuka sejati tetapi kerap kali pingsan, fisiknya lemah sampai-sampai saya pikir jangan-jangan usianya tidaklah panjang, tetapi yang membuat saya selalu ingat dengannya tidak hanya absence pingsannya yang rutin tetapi jika mendengarkan lagunya Dolly Parton “When you tell me that you love me”. Lagu ini sekaligus mengingatkan saya dengan rekan pramukanya "Danar" yang bawaannya kalem dan girly dimata saya. Yah rada enggak nyambung kalau ternyata mereka hobby pramuka. Aww.. dengar-dengar (gosipnya) salah satu dari mereka memilih lagu itu untuk mengungkapkan perasaan sukanya dengan seorang teman pria di sekolah. Makna lagunya dalam sekali dan saya baru mengerti 10 tahun kemudian ketika pertama kali jatuh cinta.

Lena teman sekelas di kelas I-5 dengan lengan baju yang digulung lalu kalau jalan seperti dia menginjak bantal karet. Salah satu siswi top dikelas saya, kompak sekali dengan Vera yang sama-sama suka lagu-lagunya The Beatles. Kadang saya pikir mereka agak extraordinary dengan selera lagunya ini sebab kala itu masa jayanya WHAM, A-ha, Duran-Duran dan genre nya. The Beatles agak oldies yang bisa dibilang pop klasik. Untungnya mama saya penggemar the Beatles jadi saya terbiasa dengan prilaku sahabat saya ini. Jika ditanya “Ley, loe suka Beatles juga yah?” jawabannya pastinya “Iya” sebab enggak ada pilihan, emak dirumah sering mendendangkan lagu-lagu the Beatles sejak saya masih kecil.

Deasy, Iwoel, Rina, Ruby (alm) dan kelompok bermainnya lumayan popular sebagai kelompok seleb sekolah, jika mereka muncul pasti suasananya jadi riuh rendah. Untungnya mereka aktif di osis dan pramuka jadi energinya tersalurkan dengan sangat baik. Jika tidak, sungguh enggak kebayang kalau jadi bullies pasti menderita sekali korbannya. Keceriaan mereka kadang membuat ketenangan kantin berubah ramai kadang rusuh karena terlalu bersemangat. Saya tidak pernah bergaul dekat dengan mereka karena enggak tertarik bergabung dengan aktivitas ekstra kulikulernya. Uniknya ketika bertahun-tahun kemudian ketika saya bekerja dan bertemu kembali dengan Iwoel di kantor yang sama, ternyata setelah dewasa dia jadi kalem. Kamipun berteman dengan sangat baik sampai sekarang.
Rasanya banyak juga siswa yang unik semasa sekolah itu, hanya saja saya perlu mengingat-ingat lebih mendalam atau dibantu teman yang lainnya untuk mengingat sosok itu kembali.

Hal yang membosankan disekolah tentu saja belajar sedangkan hal yang menyenangkan di sekolah selain ulangan dan quiz yang menyebabkan adrenalin saya berpacu lebih cepat adalah jam istirahat dan ekstra kulikuler karena saatnya bertemu teman-teman dan menikmati masakan bude di kantin sekolah. Saya enggak suka belajar karena membosankan sekali tetapi wajib dijalani sebagai pelajar, jadi enggak punya guru favorit lantaran bagi saya semua guru sangat berarti dengan masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihan dalam mengajar. Yang paling diingat adalah
Guruku Cantik sekali
Bu guru ekonomi yang begitu cantiknya, wah saya selalu terkesan sampai sekarang akan busana merah cerah membalut rapat tubuh ramping beliau, dipadu dengan warna lipstick dan sepatu senada tetapi yang membuat saya berdecak kagum karena sewarna juga dengan mobilnya. Rasanya semua murid yang datang di pagi hari itu merasakan kekaguman yang sama, jadi mana bisa lupa dengan ibu guru ini. Sedangkan kesan dengan guru-guru yang lain adalah biasa saja.

Yang paling terkenal di sekolah
Jika bicara orang yang paling top dimasa sekolah saya, tentu saja kepala sekolah dimana semua siswa dan orangtua siswa mengenalnya. Sayang kenangan dengan beliau sangat-sangat tidak manis jadi tidak nyaman untuk dikenang kembali, saya bersyukur meninggalkan sekolah dengan selamat dan memberikan point prestasi bagi beliau dengan PMDK yang saya raih.

Celebration
Ketika reunion tiba, jelas kamera menjadi andalan untuk merekam kembali masa lalu vs masa kini. "I looked around from a tiny window in the camera and wondered to myself “who are all of these old people, and then I snapped out my daydream that I am one of them too. My eyes secretly slid into their name tag when I spoke to them. Ouch I didn’t remember everyone but flashed of memory came back with the faces of our youth” tiba-tiba leher saya tercekat, betapa buruknya saya karena hanya mengenali beberapa wajah yang terekam kamera, kebanyakan saya tidak mengenalinya kembali.

Ketika terekam wajah seorang teman yang saya kenal, “Ah begitu berubahnya dia”. Tiba-tiba saya mendengar seorang alumni mendesah didekat saya “Ah kok gue ngga inget mereka lagi ya.” Batin saya mengguman “Iye aye juga.” Pertunjukan di stage sama sekali tidak menarik minat sebab apa gunanya terpaku menatap panggung padahal begitu banyak wajah alumni yang lebih penting untuk diamati untuk dikenali kembali, begitu banyak teman lama yang ingin saya ajak bicara. Bagi saya kehadiran Vera seorang saja sudah menghabiskan separuh waktu di arena perayaan. Sialnya teman-teman dekat saya yang jadi panitia jadi hopeless harapan ngobrol ini dan itu yang tertunda sekian lama. Pertanyaan hati saya “Kok bisa ya habis peluk pelukan dengan bertanya kabar lalu duduk sebelahan nonton atraksi di panggung dengan serius, apakah kerinduan bertemu yang 20 tahun itu terobati dengan percakapan basa-basi standard singkat 5 menit?”. Namun nampaknya banyak juga yang memilih menikmati pertunjukan ketimbang berinteraksi dengan para teman lama. Mungkin dengan menikmati pertunjukan itu angan mereka kembali kemasa lalu, “melamun”.

http://alumni88sma39.multiply.com/ Sambil menikmati kebersamaan dengan Vera, jemari ini menghapus foto-foto dari memory card kamera, sungguh saya tidak menyesal melakukannya karena saya lebih suka mengenang mereka dijaman ketika suka dan duka terjadi. Apalagi penyelenggara reuni telah menyewa photographer professional dan kami mempunyai website yang kapan saja, dimana saja bisa dinikmati. Jadi ketimbang sibuk memotret lebih menyenangkan menyapa kawan-kawan lama lalu tenggelam dalam percakapan mengenang saat berkesan dimasa lalu. Reuni setelah 20 tahun silam bukanlah waktu perpisahan yang singkat, waktu telah merubah wujud sahabat-sahabat saya, tetapi ternyata waktu tidak merubah perasaan saya dengan mereka. Akankah waktu memberikan kesempatan kami berjumpa lagi ?

AUF WIEDERSEHEN
Poetry of Henry Wadsworth LongfellowIn the Harbor
http://eclecticesoterica.com/longfellow.html
In memory of J.T.F.

Until we meet again! That is the meaning
Of the familiar words, that men repeat
At parting in the street.
Ah yes, till then! but when death intervening
Rends us asunder, with what ceaseless pain
We wait for the Again!
The friends who leave us do not feel the sorrow
Of parting, as we feel it, who must stay
Lamenting day by day,
And knowing, when we wake upon the morrow,
We shall not find in its accustomed place
The one beloved face.
It were a double grief, if the departed,
Being released from earth, should still retain
A sense of earthly pain;
It were a double grief, if the true-hearted,
Who loved us here, should on the farther shore
Remember us no more.
Believing, in the midst of our afflictions,
That death is a beginning, not an end,
We cry to them, and send
Farewells, that better might be called predictions,
Being fore-shadowings of the future, thrown
Into the vast Unknown.
Faith overleaps the confines of our reason,
And if by faith, as in old times was said,
Women received their dead
Raised up to life, then only for a season
Our partings are, nor shall we wait in vain
Until we meet again!

image diambil dari creative therapy associates, Cincinnati Ohio.1994